Dalam Polemik Kebudayaan, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) paling getol untuk merubah sistem berpikir masyarakat bangsa Indonesia. STA bukan satu satunya orang yang menyerang tradisi. Di ranah sosial keagamaan, parapengusung ide ide pembaharuan Moh Abduh tidak jarang membuat konflik pemikiran sehingga tidak jarang pula sampai membuat masjid baru karena tidak sepemahaman. Isu isu bid’ah, takhayul, dan khurafat menjadi penting sebagai awal perbedaan pendapat (ikhtilaf).
Menurut M. Nucholish Madjid, Mesir dan Turki adalah dua negara yang paling gencar menerima modernism Eropa yang ada di hadapan mereka. Mereka melihat model model modernisme Eropa adalah satu satunya contoh untuk ditiru. Walhasil, dari Mesir dan Turki pula titik awal perubahan di Timur Tengah untuk menjadi “modern” negara bangsa, republik dengan sistem kepresidenan dan parlementer. Menggantikan sistem monarki-kerajaan.
Perubahan (Al Taghayur)
Bagaimanapun, perubahan social budaya umat Islam di dunia senantiasa mengacu kepada perubahan di Timur Tengah. Dan, perlu dikemukan pula Hasrat untuk bertanya, “Apakah perubahan itu?” Di situ, perubahan pun menjadi wacana tersendiri untuk dipertanyakan dan diperdebatkan, al taghayur.
Modernisme menjadi tema penting bagi suku-bangsa di Timur untuk merespon tawaran tawaran baru dari Barat. Baik dari kalangan tradisional maupun kalangan muda (dan sematan modern) sama sama tidak mau mengakui telah melakukan kerjasama dengan pihak Barat. Begitu pula, kalangan Islamisme dan Komunisme hampir sama sama tidak mengakui afiliasi mereka, kecuali yang terang terangan seperti Muso yang hendak mendirikan negara Indonesia-Soviet. Dan, klaim ini sama sama merasa paling berjasa. Misal, kalangan Komunis-Muso merasa Uni Soviet turut serta memerdekakan Indonesia. Begitu pula, Amerika berkata sama kalau mereka turut membantu memerdekakan Indonesia. Apalagi Jepang. Namun, pada intinya, kekerasan sikap muncul karena ide yang mereka usung dari negara negara “narasumber” adalah yang dipandang paling baik dan paling modern. Walhasil, pemegang otoritas kekuasaan di Indonesia merasa paling banyak menumpahkan darah untuk kemerdekaan. Mereka yang berpegang teguh pada tradisi yang sering dicap sebagai feodal.
Sumber Masalah
Modern yang semula sebagai upaya untuk memperbaharui diri dan cara berpikir diri, kemudian menjadi gerbong dan kendaraan tersendiri. Modern sebagai oposisi tradisi kemudian menjadi kerangka berpikir untuk menyerang dan menyalahkan tradisi. Padahal, masing masing coba saling mencuri kesempatan.
Modernis dan modernisme di Indonesia bisa dikatakan bukan sebagai sebab sumber masalah. Masalah utama suku-suku-bangsa di Timur (tidak hanya negara negara berpenduduk muslim) adalah kekalahan dari Perang Dunia (PD) I dan PD II. Sehingga modern menjadi idola baru untuk menutupi rasa rendah diri dan ketertinggalan. Ibarat kalah bertanding, tentu akan selalu mencari hilah (alasan) agar tetap dipandang dan dianggap sebagai pemenang. Padahal, pengaturan dunia selanjutnya dikuasai oleh negara negara pemenang PD I dan PD II. Maka, tidak heran, jika kemudian Indonesia di bawah komando Ir Soekarno pernah keluar dari PBB.
Hingga pada akhirnya, modernisme bukan satu satunya sumber masalah. Bagi umat Islam, Muhammad Abduh hanya menebar ilusi ilusi kemajuan saja. Pada kenyataannya adalah alienasi. Rasionalisasi yang diusung ternyata mentok. Karena, berusaha melepas dari akar tradisi dan akar lingkungannya. Modernisme tidak lebih dari upaya alienasi diri. Mengasingkan diri. Toh, pada kenyataannya, Inggris masih tetap memakai sistem monarkhi, Belanda juga sama, Arab Saudi, Qatar, dan seterusnya. Tetap tidak merubah untuk merasa sebagai pihak yang kalah.
















