Di jaman ini, sangat sulit atau mustahil orang atau lembaga bisa meraih reputasi dan prestasi puncak sendirian. Semua butuh mitra. Selamat bekerja!
–KH Abdul Halim Mahfudz–
Di pondok pesantren, cara berorganisasi masih sangat menjunjung tinggi sportivitas dalam berdemokrasi. Ketika, tanggung jawab organisasi dan program program yang direncanakan dipikul secara bersama. Begitu pula, pada aspek pembiayaan setiap program. Sebab, dari anggaran dan pembiayaan pula sebuah organisasi dapat berjalan.
Lantas, manakah yang lebih dahulu dijadikan prioritas dalam organisasi? Program ataukah biaya?
Organisasi Tradisional
Masyarakat Indonesia selalu menjunjung tinggi kebersamaan dan musyawarah sehingga disebut sebagai “keluarga”. Kata keluarga berasal dari bahasa Jawa yang berarti “kula warga”. Saya adalah bagian dari anggota. Sebagai bagian dari anggota, maka memiliki konsekuensi yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Dari kata ini, kemudian sering dipandang “tradisional” karena menjunjung tinggi pula pada asas kekeluargaan. Sebagaimana kekeluargaan tidak dipandang sebagai hubungan emosional semata, melainkan pula keikhlasan dalam sebuah penghormatan dan pengabdian.
Maka, tidak heran, jika hal ini pun kemudian tercermin ke dalam pola pemerintahan kerajaan kerajaan di Nusantara yang sering dipandang feodal pula. Pada dasarnya, keikhlasan dalam mengabdi ini tidak saja melindungi tanah air semata, melainkan menjunjung tinggi harkat keluarga. Pada posisi ini, imbalan dan jasa menjadi bagian kedua. Dan, yang utama adalah nilai nilai spirit dan patriotisme.
Secara finansial, pondok pesantren memiliki kekurangan kekurangan, karena memang orientasinya adalah transformasi ilmu. Bukan mengejar kemajuan kemajuan finansial. Modal utama yang dimiliki oleh pondok pondok pesantren adalah spirit dan patriotisme sosial. Ikatan kuat antara kiai, santri, dan masyarakat lingkungannya adalah “sosial kapital” yang tak kalah kuatnya dengan kecukupan kecukupan finansial.
Organisasi Terencana
Di zaman serba digital saat ini, pengetahuan dapat dengan mudah diterapkan. Semua kebutuhan dan minat dapat dengan mudah diwujudkan. Tanpa sekolah tinggi tinggi, seseorang dapat dengan mudah mempelajari sesuatu seperti beternak lebah misalnya cukup melalui tutorial tutorial yang tersedia. Pun, dalam menggali permodalan.
Namun, kerja kerja demikian masih bersifat individual. Apalagi, propaganda yang sering muncul dalam sekejap dapat menjadi seorang milyader atau milyuner. Tanpa disadari, kemampuan kemampuan individual tersebut tidak dapat terealisasi tanpa bantuan dari pihak lain. Tanpa ada konsolidasi dan kebersamaan, penguasaan penguasaan modal masih tetap akan terpusat dengan tanpa pemerataan.
Ulama ulama terdahulu seperti Hadratusyyekh KHM Hasyim Asy’ari dan KHA Wahab Chasbullah di Surabaya, KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, serta KH Samanhudi di Solo menggerakkan potensi potensi industri kecil menengah seperti batik dan hasil hasil pertanian. Bukan mengutamakan kekuatan “finansial” yang menjadi kampanye dan propaganda di zaman sekarang.
Pondok pesantren sudah cukup responsif di dalam menghadapi perubahan perubahan administrasi negara. Di samping, pondok pesantren memiliki peran membangun diri dan lingkungannya. Tentu, hal ini diawali dari perkara yang tidak mudah, melainkan melalui proses yang panjang. Bangunan struktur organisasi pondok pesantren memang diawali dari lingkungan organisasi keluarga yang dikembangkan kepada parasantri dan lingkungan masyarakat di lokasi pondok pesantren tersebut.
Selain pondok pesantren, TNI dipandang sebagai organisasi terbaik saat ini di Indonesia. Soliditas yang terbangun di TNI selalu menjadi contoh yang baik bagi penyelenggaraan organisasi organisasi lainnya. Meskipun, dari segi pembiayaan organisasi, TNI adalah salah satu aparatur negara di bidang pertahanan dan keamanan. Oleh karena itu, kerjasama TNI dan pondok pesantren akan menjadi kekuatan di dalam memajukan bangsa. Bagaimanapun tantangan bangsa ke depan bukan saja pada persoalan ekonomi, politik, pertahanan, dan keamanan semata melainkan juga pada akhlak bangsa.
Krisis finansial atau moneter memang telah mengkhawatirkan semua bangsa, tapi krisis akhlak jauh lebih mengkhawatirkan lagi.
















