• Latest
  • Trending

Merubah Watak Berorganisasi Kita

7 September 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Merubah Watak Berorganisasi Kita

Muhammad Sakdillah Jurnalis Muhammad Sakdillah
7 September 2022
in Nasional
Reading Time: 2 mins read
A A

Di jaman ini, sangat sulit atau mustahil orang atau lembaga bisa meraih reputasi dan prestasi puncak sendirian. Semua butuh mitra. Selamat bekerja!

–KH Abdul Halim Mahfudz–

Di pondok pesantren, cara berorganisasi masih sangat menjunjung tinggi sportivitas dalam berdemokrasi. Ketika, tanggung jawab organisasi dan program program yang direncanakan dipikul secara bersama. Begitu pula, pada aspek pembiayaan setiap program. Sebab, dari anggaran dan pembiayaan pula sebuah organisasi dapat berjalan.

ArtikelLainnya

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023
0

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023
0

Terima Kasih Prof, Selamat Jalan Prof

19 September 2022
0

Tradisional di Sana, Modern di Sini

14 September 2022
0
Load More

Lantas, manakah yang lebih dahulu dijadikan prioritas dalam organisasi? Program ataukah biaya?

Organisasi Tradisional

Masyarakat Indonesia selalu menjunjung tinggi kebersamaan dan musyawarah sehingga disebut sebagai “keluarga”. Kata keluarga berasal dari bahasa Jawa yang berarti “kula warga”. Saya adalah bagian dari anggota. Sebagai bagian dari anggota, maka memiliki konsekuensi yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Dari kata ini, kemudian sering dipandang “tradisional” karena menjunjung tinggi pula pada asas kekeluargaan. Sebagaimana kekeluargaan tidak dipandang sebagai hubungan emosional semata, melainkan pula keikhlasan dalam sebuah penghormatan dan pengabdian.

Maka, tidak heran, jika hal ini pun kemudian tercermin ke dalam pola pemerintahan kerajaan kerajaan di Nusantara yang sering dipandang feodal pula. Pada dasarnya, keikhlasan dalam mengabdi ini tidak saja melindungi tanah air semata, melainkan menjunjung tinggi harkat keluarga. Pada posisi ini, imbalan dan jasa menjadi bagian kedua. Dan, yang utama adalah nilai nilai spirit dan patriotisme.

Secara finansial, pondok pesantren memiliki kekurangan kekurangan, karena memang orientasinya adalah transformasi ilmu. Bukan mengejar kemajuan kemajuan finansial. Modal utama yang dimiliki oleh pondok pondok pesantren adalah spirit dan patriotisme sosial. Ikatan kuat antara kiai, santri, dan masyarakat lingkungannya adalah “sosial kapital” yang tak kalah kuatnya dengan kecukupan kecukupan finansial.

Organisasi Terencana

Di zaman serba digital saat ini, pengetahuan dapat dengan mudah diterapkan. Semua kebutuhan dan minat dapat dengan mudah diwujudkan. Tanpa sekolah tinggi tinggi, seseorang dapat dengan mudah mempelajari sesuatu seperti beternak lebah misalnya cukup melalui tutorial tutorial yang tersedia. Pun, dalam menggali permodalan.

Namun, kerja kerja demikian masih bersifat individual. Apalagi, propaganda yang sering muncul dalam sekejap dapat menjadi seorang milyader atau milyuner. Tanpa disadari, kemampuan kemampuan individual tersebut tidak dapat terealisasi tanpa bantuan dari pihak lain. Tanpa ada konsolidasi dan kebersamaan, penguasaan penguasaan modal masih tetap akan terpusat dengan tanpa pemerataan.

Ulama ulama terdahulu seperti Hadratusyyekh KHM Hasyim Asy’ari dan KHA Wahab Chasbullah di Surabaya, KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, serta KH Samanhudi di Solo menggerakkan potensi potensi industri kecil menengah seperti batik dan hasil hasil pertanian. Bukan mengutamakan kekuatan “finansial” yang menjadi kampanye dan propaganda di zaman sekarang.

Pondok pesantren sudah cukup responsif di dalam menghadapi perubahan perubahan administrasi negara. Di samping, pondok pesantren memiliki peran membangun diri dan lingkungannya. Tentu, hal ini diawali dari perkara yang tidak mudah, melainkan melalui proses yang panjang. Bangunan struktur organisasi pondok pesantren memang diawali dari lingkungan organisasi keluarga yang dikembangkan kepada parasantri dan lingkungan masyarakat di lokasi pondok pesantren tersebut.

Selain pondok pesantren, TNI dipandang sebagai organisasi terbaik saat ini di Indonesia. Soliditas yang terbangun di TNI selalu menjadi contoh yang baik bagi penyelenggaraan organisasi organisasi lainnya. Meskipun, dari segi pembiayaan organisasi, TNI adalah salah satu aparatur negara di bidang pertahanan dan keamanan. Oleh karena itu, kerjasama TNI dan pondok pesantren akan menjadi kekuatan di dalam memajukan bangsa. Bagaimanapun tantangan bangsa ke depan bukan saja pada persoalan ekonomi, politik, pertahanan, dan keamanan semata melainkan juga pada akhlak bangsa.

Krisis finansial atau moneter memang telah mengkhawatirkan semua bangsa, tapi krisis akhlak jauh lebih mengkhawatirkan lagi.

Tags: finansialpesantrenTNI
Previous Post

Perdikan, Kerangka Budaya Kaum Santri

SELANJUTNYA

Reaktualisasi Pencaksilat di Indonesia (Bagian Satu)

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

SELANJUTNYA

Reaktualisasi Pencaksilat di Indonesia (Bagian Satu)

Lie Detectors: Indonesia Darurat Orang Sakti

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In