Meskipun digempur dengan statemen statemen merendahkan kalau menghafal tidak penting bagi seorang pelajar, tapi tradisi ini masih tetap berlangsung di pondok pondok pesantren. Baik itu menghafal mufaradat (kosakata) bagi pesantren bahasa, maupun nadham nadham dan Al Quran. Belakangan, bila melihat kurikulum di sekolah sekolah dasar, menengah, dan atas, penekanan analisis sebagai lawan dari menghafal menjadi trend utama dengan tujuan kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan belajar.
Lalu, apakah menghafal tidak lagi relevan karena terlanjur konservatif?
Tentu, tidak semudah itu. Banyak kalangan dari pemerhati pendidikan mengeluh dengan kurikulum sekarang. Semacam lompatan yang sangat jauh, bahkan cenderung lepas kontrol. Sebab, sejak dini, anak anak didik sudah diajar berpikir kritis yang akan berdampak pada sikap apatis. Dari sikap apatis ini, akhirnya akan melahirkan sikap pragmatis.
Tidak salah dengan metode kritis dalam terapan belajar, karena sejak dini anak didik sudah diajarkan untuk mandiri dan mampu mengambil sikap sendiri. Namun, yang perlu diperhatikan pula adalah perkembangan kejiwaan anak didik. Mereka sudah digiring pada dunia dewasa sehingga menjadi hibrida. Bahkan, cenderung tidak mampu menguasai apa apa karena tidak menguasai materi.
Fungsi penting dari menghafal adalah sejak dini anak didik diajarakan untuk rajin mengumpulkan materi. Jika di pesantren pesantren, mereka mengumpulkan rumus rumus bahasa dan kosakata yang melimpah. Menghafal Al Quran misalnya, seorang anak akan mengumpulkan ribuan kosakata yang tersusun rapi ke dalam memorinya. Tidak saja untuk meningkatkan fungsi otak, tapi juga meningkatkan daya ingat. Orang yang hafalan Al Qurannya baik, dia akan terlihat cerdas, kreatif, dan justru mampu berinovasi dengan sendirinya. Karena, dari memori otaknya sudah penuh dengan data data dan kosakata.
Mungkin, perlu penelitian serius, cepat manakah literasi diterapkan di pondok pondok pesantren dan di sekolah sekolah. Hampir bisa dipastikan, orang yang memiliki kelebihan ingatan melalui hafalan akan lebih cepat mengembangkan program program literasinya. Karena, sudah terbiasa mengumpulkan materi ke dalam ingatan. Dan, kalaupun diimplementasikan kepada bidang bidang lain seperti riset, malah akan cepat beradaptasi.
Hanya saja, memang, perlu diberikan catatan. Karena, menghafal sifatnya mengulang ulang, maka harus pula dibekali kemampuan berpikir kritis. Meskipun, kritisisisme akan muncul dengan sendirinya. Contoh, orang yang terbiasa mendengarkan nada dan lagu Syekh Al khushoiri akan sangat jangkal ketika mendengar nada dan lagu imam masjid Istiqlal. Hal yang paling gampang adalah ketika Al Quran dan azan menggunakan langgam Jawa. Bagi yang terbiasa menghafal dan mengenal seluk beluk dzauq, hal itu tidak menjadi masalah. Bahkan, ada inovasi baru.
Yang jelas, untuk menguasai banyak hal, sebaiknya memang harus dimulai dari satu hal. Tinggal mau dari mana memulainya.



















