Selamat Jalan Prof Azyumardi Azra
Terima kasih kami, warga NU
Pengabdianmu pada negeri
Tetap sportif seperti Buya Syafii
Berkat kalian
Masyarakat Islam Indonesia sudah mulai berbenah
Untuk tidak saling curiga
Memfitnah, apalagi bersilang sengketa
Tugasmu di dunia telah selesai, Prof
Meskipun sekarang kami masih galau
Tidak mengenal arah angin kepastian
Dalam menghalau kegundahan
Hari ini mendapat kabar, Prof Azyumardi Azra akan dimakamkan besok, hari Selasa. Setelah dikabarkan wafat kemarin siang, Minggu, 18/9/2022, di Serdang, Selangor, Malaysia.
Update berita: sudah dikonfirm ke UIN Jakarta, Jenazah Prof. Azyumardi Azra akan tiba nanti malam, disemayamkan di UIN dan akan dimakamkan esok Selasa pkl 09.00 di TMP Kalibata.
Demikian, seranta yang dikirim via WAG siang tadi, Senin, 19/8/2022.
Meskipun, tidak banyak diketahui kontribusi intelektualnya oleh warga Nahdliyin di pedesaan, namun bagi sebagian besar masyarakat bangsa Indonesia sering menyaksikan dan menyimak pendapat pendapatnya yang netral. Khas akademis. Sebagai tokoh intelektual terkemuka, ia tak segan segan menyapa masyarakat di media media massa, kebiasaan yang jarang dilakukan oleh kalangan akademisi sendiri. Bahkan, ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya di Malaysia, ia sedang menunaikan tugas sebagai narasumber Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam yang diselenggarakan oleh Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) di Selangor, Malaysia pada Sabtu, 17/9/2022.
Sangat singkat waktu yang dilaluinya dari meja seminar sampai ke rumah sakit.
Sejenak, melirik hubungan Prof Azyumardi Azra dan tradisi karena daerah kelahirannya, Pariaman, memang sangat kental dengan dunia “magis” tasawuf. Terdapat dua tokoh tarekat terkenal yang tak pernah sepi dari peziarah, Syekh Burhanuddin Ulakan dan Syekh Saliah. Dari latar belakang sosial ini, telah menanamkan “memori bawah sadar” yang kuat baginya untuk toleran terhadap tradisi. Bagaimanapun, NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi terbesar di Indonesia yang masih berpegang pada tradisi Islam, meskipun ketika melihat satu pokok persoalan dari dua sudut yang berbeda.
Pesantren, dengan kelebihan dan kekurangannya, adalah aset terbesar bangsa. Tradisi seolah sesepuh yang harus dipatuhi. Jika tidak, modernitas hanya akan menyisakan puing puing kerusakan. Baik dari segi administrasi dan regulasi birokrasi, namun memberi peluang besar terjadinya korupsi. Di kampung halamannya, Prof Azyumardi masih memiliki surau surau, nama lain pesantren di Ranah Minang.
Keyakinan atas tradisi ini, Islam akan tetap memeiliki akar yang kuat di dalam kehidupan masyarakat. Namun, sampai di manakah tradisi tersebut akan tetap bertahan? Tentu, berada di tangan masyarakat dan generasi yang meneruskannya.
Selamat jalan, Prof. Terima kasih atas sumbangsih pemikiran yang tak akan lekang bagi kami, warga Nahdliyin, dan tentu warga Muhammadiyah.
Kebumen, 19 September 2022.
















