• Latest
  • Trending

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (II)?

12 September 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (II)?

Muhammad Sakdillah Jurnalis Muhammad Sakdillah
12 September 2022
in Politik dan Hukum
Reading Time: 2 mins read
A A

Membaca Kritis Ketika G.J. Resink Membongkar Mitos

Sejarah menurut para historiografi gampangnya adalah cerita atau kisah yang disajikan dengan bukti bukti dan data data otentik. Data data otentik tersebut adalah berbentuk fisik, baik berupa tulisan maupun benda benda peninggalan seperti prasasti atau piagam. Dari bukti bukti fisik tersebut kemudian disajikan dalam bentuk cerita atau sebuah rekayasa penafsiran. Intinya, sejarah adalah tafsir tafsir tentang sesuatu ke dalam bentuk narasi tertentu.

Orang Inggris sendiri menyebut istilah “sejarah” dari susunan kata “He stories”, dia bertutur, dan His stories”, cerita cerita milik si dia.  Sementara kata sejarah sendiri dalam bahasa Indonesia sebenarnya diambil dari kata bahasa Arab, syajarah, yang berarti “pohon”. Pohon yang memiliki akar (masa lalu), batang (sekarang), dengan daun yang rindang dan buah yang lebat (masa depan). Jadi, sejarah memiliki hubungan sebab akibat dari masa lalu hingga masa depan yang diajalani kini dan di sini.

ArtikelLainnya

Memang Seharusnya Pancasila Menjadi Ideologi Terbuka

17 September 2022
0

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (I)?

11 September 2022
0

Mari Menghitung Demokrasi dalam Angka

23 Agustus 2022
0
Load More

Kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan selama 350 tahun dipertanyakan oleh G.J. Resink (1911-1997) sebagai mitos dan ramalan belaka. Hal ini dibuktikan oleh Resink melalui surat surat yang dipunyai oleh raja raja atau sultan sultan di Nusantara. Memang, ramalan tentang 350 tahun tersebut sangat populer, karena berangkat dari seorang Raja yang berilmu linuwuh, Jayabaya. Kuasa ramalan tersebut terbukti ampuh dan tertulis tebal dalam buku sejarah Indonesia sehingga menjadi memori alam bawah sadar bagi bangsa Indonesia.

Sebelum G.J. Resink, masa penjajahan Belanda di Indonesia belum menjadi perhatian serius. Resink kemudian mengemukakan satu teori melalui “Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory” (1968). Memang, tidak gampang untuk menjelaskan hal ini. Apalagi sebelumnya telah berkutat pada kajian kolonialisme dan pascakolonialisme. Seolah Indonesia hadir sebagai kelanjutan dari kolonialisme itu sendiri. Dan, tidak sedikit, terutama dari kalangan sejarawan Islamisis beranggapan demikian. Indonesia merupakan kolonialisme gaya baru. Meskipun, kenyataan yang ada memang tidak bisa terlepas seperti pada masa VOC dan praktik praktik Herman Willem Daendels (1762-1818) dengan adanya oligarki dan liberasi pada masa Pemerintah Hindia Belanda (PHB).

Gertrudes Johannes Resink adalah ahli hukum internasional berdarah Belanda kelahiran Yogyakarta. Ia pernah menjadi Guru Besar Hukum Konstitusi di Universitas Indonesia pada 1947 hingga 1976. di samping dikenal sebagai pakar hukum, Resink juga sering menulis karya karya susastra seperti sajak dan syair yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Indonesia. Kumpulan sajaknya tersebut diberi judul Kreeft en Steenbok (1963) yang dianggap memiliki aroma magis dari tempat kelahirannya.

Sebagai ahli hukum internasional, Resink mulai menelisik aspek aspek hukum internasional seperti perjanjian batas dan wilayah suatu kerajaan. Tradisi yang sudah berlangsung sejak masa kerajaan Goa-Tallo. Begitu pula yang terjadi pada masa Airlangga di Jawa. Perbatasan wilayah sudah dibuat sejak zaman pra-Islam yang sudah mengenal konsep batas wilayah (demarkasi).

Ketika Pemerintah Hindia Belanda dibentuk pada awal abad ke-19, negara tersebut mewarisi seluruh aset dan urusan VOC yang telah bangkrut dan dinyatakan tutup di wilayah Nusantara. Relasi dagang dan politik yang dimulai sejak masa VOC pun berlanjut. Terdapat banyak dokumen sejarah yang mencatat perjanjian perjanjian dagang dan pengaturan wilayah kekuasaan yang diperoleh oleh Resink secara mendetil. Serta, didukung oleh dokumen dokumen yang sangat rapi yang dimiliki oelh VOC tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat Nusantara. Termasuk di dalamnya tentang batas batas teritorial kelautan yang sudah dimiliki oleh kerajaan kerajaan di Nusantara.

Hasil kesimpulan yang diperoleh oleh Resink dari hasil penelitiannya ini akan menuai kenyataan dengan catatan: Indonesia akan terus dibayangbayangi oleh kepentingan kepentingan kolonialisme dan primordialisme, baik yang didorong oleh semangat internasionalisme maupun kampanye agama. Tentu, masing masing memiliki agenda sendiri sendiri.

Tags: internasionalisme
Previous Post

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (I)?

SELANJUTNYA

Pentingnya Menghafal dalam Belajar

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

SELANJUTNYA

Pentingnya Menghafal dalam Belajar

Tradisional di Sana, Modern di Sini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In