• Latest
  • Trending

Mari Menghitung Demokrasi dalam Angka

23 Agustus 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Minggu, 18 Oktober 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Mari Menghitung Demokrasi dalam Angka

Jatim Net26 Jurnalis Jatim Net26
23 Agustus 2022
in Politik dan Hukum
Reading Time: 2 mins read
A A

 

 Ketika pemilihan suara sudah melalui voting, maka sejak saat itu pula demokrasi menjadi angka.

ArtikelLainnya

Memang Seharusnya Pancasila Menjadi Ideologi Terbuka

17 September 2022
0

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (II)?

12 September 2022
0

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (I)?

11 September 2022
0
Load More

Masa Orde Baru

Penamaan yang jelas untuk sebuah fase pemerintahan di Indonesia adalah “Orde Baru”, Adapun istilah “Orde Lama” adalah fase ciptaan Orde Baru. Bung Karno sendiri menyebutnya sebagai “Revolusi”. Sementara “Reformasi” menjadi perdebatan, apakah diartikan sebagai sebuah gerakan perubahan atau sebuah orde?

Pembahasan sebuah orde dalam buku buku sejarah lebih kepada tataran normatif daripada kepada mekenisme. Apakah benar pada masa Orde Lama, Pemilihan Umum (Pemilu) benar benar demokratis dengan tanpa implikasi? Implikasi demokrasi tentu dari segi aspek cost politic dan money politic, terutama ketika Pemilu mulai tampak sangat liberal pada masa masa belakangan ini.

Pada masa Orde Baru, solidaritas dan faniatisme politik benar benar diuji. Karena, resistensi yang didukung kuat oleh totalitas telah menunjukkan loyalitas yang besar. Biaya Pemilu dapat ditekan karena dapat dihasilkan melalui peran solidaritas dan soliditas ini. Selain itu, pemilihan kepala negara masih melalui mekanisme perwakilan sehingga cost politic dapat ditekan, meskipun money politic tetap tak dapat dihindari melalui lobi lobi kursi dan fraksi.

Pasca Orde Baru

Era ini belum menemukan bentuknya, meskipun sebagian pakar menyebutnya era Orde Reformasi.

Pada awal Reformasi keadaan masih stabil dalam euphoria politik, karena merasa baru lepas dari resistensi Orde Baru. Rakyat baru merasakan kebebasan. Sehingga muncul beragam kreativitas dari segala bidang, terutama dalam membuka kran baru bagi pembiayaan pembiayaan pembangunan.

Namun, sekali lagi, tataran politis hanya berbicara pada level level normatif saja. Tidak pada tataran mekanisme. Hal ini diindikasikan dengan kemunculan kejutan kejutan tak terduga. Termasuk, pemenang Pemilu.

Pengamat menyebut era ini sebagai masa transaksional, ketika permainan suara demokrasi sudah sangat matang dihitung jumlah dan nilainya. Ibarat usaha dagang jika melalui koperasi, maka suara suara demokrasi dapat dihitung secara rinci perkepala. Sehingga nilai dan jumlah harga satu kursi dapat dirinci banyaknya kebutuhan biaya. Isu jauh dari api. Karena, api politik bekerja sendiri di alam bawah sadar atau melalui operasi senyap. Namun, kekuasaan korporat besar membutuhkan modal besar akumulatif. Dibutuhkan seorang juragan yang mampu menarik modal tanpa diketahui jejaknya. Memang, pada era ini, tiap suara sudah dihargai dengan nilai tukar uang. Tidak ada suara yang gratis kecuali diberikan secara sukarela. Semua “sudah dikunci” menurut istilahnya.

Ayo berhitung dan dari manakah akan memulai?

Tags: Pemilu
Previous Post

Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik, MTs MQ Siaga Literasi

SELANJUTNYA

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

Jatim Net26

Jatim Net26

SELANJUTNYA

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

Pesantren dan Selebritas Intelektual (Bagian Empat)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In