• Latest
  • Trending

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (I)?

11 September 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (I)?

Muhammad Sakdillah Jurnalis Muhammad Sakdillah
11 September 2022
in Politik dan Hukum
Reading Time: 2 mins read
A A

Beberapa orang yang dijumpai tidak memberikan tanda tanda positif pada kebangkitan Indonesia, meskipun tidak henti henti disuarakan nada optimis tentang NKRI. Suara suara demikian muncul sejak lama, sejak muncul Negara Indonesia Soviet bentukan Muso, Negara Islam Indonesia bentukan RM Kartosoewirjo, dan terakhir tentang khilafah HTI. Bagi mereka, tidak ada bentuk negara yang sudah final, jadi masih ada kemungkinan berubah. Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam salah satu ceramahnya menyebutkan, “Kita belum siap bernegara, karena di dalam Sumpah Pemuda tidak disebutkan (negara yang satu negara Indonesia).” Masuk akal. Setidaknya, untuk koreksi terhadap penyelenggara negara yang belum pernah dan tidak akan pernah selesai.

Negara Milik Partai Politik (?)

Sejak awal berdiri, negara sudah menjadi milik partai politik. Ada sedikit ruang bagi organisasi nonpartai seperti MIAI pada masa Pemerintah Hindia Belanda. Begitu pula,Golongan Karya pada masa Orde Lama dan Utusan Daerah pada masa Orde Baru. Pada masa “Reformasi”, negara dikuasakan kepada partai seutuhnya kendati berbagi peran dengan penyelenggara negara lainnya.

ArtikelLainnya

Memang Seharusnya Pancasila Menjadi Ideologi Terbuka

17 September 2022
0

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (II)?

12 September 2022
0

Mari Menghitung Demokrasi dalam Angka

23 Agustus 2022
0
Load More

Melalui mekanisme yang berjalan, semula suara rakyat sebagai pemegang kedaulatan masih bisa terwakilkan. Namun, mendadak pesimis manakala kedaulatan rakyat perlu dipertanyakan. Berbicara kecurangan, hal tersebut sudah coba ditepis karena memang tidak ada penyelenggaraan Pemilu yang benar benar bersih dan sehat. Mesti, ada kekurangan kekurangan yang masih bisa dimaafkan.

Republik

Ketika parapendiri bangsa bersepakat menggunakan model “Republik” tentu memiliki konsekuensi jika kedaulatan rakyat berada di atas konstitusi yang terimplementasikan melalui mekanisme demokrasi. Demokrasi dalam pengertian suara rakyat terpelihara melalui jalur jalur resmi, terutama partai politik. Dengan kata lain, suara rakyat masih bisa didengar melalui mekanisme selain partai politik. Itu idealnya.

Namun, pada penerapan terakhir, hal tersebut tidak memberi ruang suara rakyat akan terjamin. Baik partai politik maupun organisasi nonpartai bisa mengklaim kalau mereka memiliki suara sah rakyat. Sementara rakyat sendiri tidak tahu berapa harga suara yang mereka miliki perkepala. Mereka hanya tahu ketika tiba masa Pemilu, mereka mendapat uang cash. Mereka tidak tahu dan bahkan tidak peduli berapa besar biaya politik dan uang politiknya. Cost politic and money politic. Namun, yang jelas, benar benar uang dari rakyat, untuk rakyat, dan kembali kepada rakyat. Cash!

Previous Post

Mazhab “Kepenak” KHA Musta’in Syafi’ie

SELANJUTNYA

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (II)?

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

SELANJUTNYA

Mitos 350 Tahun, Ramalan Berakhirnya Indonesia (II)?

Pentingnya Menghafal dalam Belajar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In