Begitu pentingnya arti pencaksilat dalam pandangan seorang Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, 1940-2009) sehingga ia bercita cita untuk menulis novel tentang silat. Pandangan tersebut memang wajar, karena pencaksilat menyimpan kandungan budaya yang sangat tinggi. Pencaksilat mungkin hanya seni beladiri Kung Fu yang mampu menandinginya.
Ibarat tasawuf, pencaksilat adalah bersifat praktis. Hanya beberapa jurus yang menjadi fondasi atau kuda kuda sebagai pijakan dasar secara teoretik, selebihnya adalah kreasi, pengembangan, intuisi, reflek, dan alami. Dari segi kealamian ini, seorang master atau guru silat hanya memerlukan kepekaan dan intuisi yang tajam dalam melakukan serangan serangan dan pertahanan pertahanan.
Pencaksilat, meskipun mulai kurang diminati oleh masyarakat umum, namun menjadi materi wajib untuk dipelajari oleh kalangan tentara. Keunggulan pencaksilat ini yang dipercaya telah mengangkat pamor TNI tidak mudah dikalahkan oleh tentara tentara suku-bangsa lain yang hanya mengandalkan kecanggihan kecanggihan teknologi.
Keunikan pencaksilat ini yang masih sulit diterima oleh dunia internasional. Sebab, pencaksilat tidak hanya mengandalkan ketangguhan gerakan fisik semata, lebih dari itu, pencaksilat juga melibatkan intuisi dan keyakinan.
Untuk melakukan reaktualisasi pencaksilat belakangan ini agar tidak terlalu jauh meresahkan masyarakat sehingga asing bagi generasi muda Indonesia, maka sebaiknya ditelaah terlebih dahulu akar sejarah dan fondasi spiritnya, tarekat.
Tarekat dalam Tradisi Islam Nusantara
Pencaksilat bisa dikatakan salah satu cabang tasawuf praktis berupa tarekat. Melalui pencaksilat, zikir diimplementasikan ke dalam gerakan gerakan tubuh. Dari gerakan gerakan tubuh tersebut melahirkan keindahan. Dan, keindahan keindahan tersebut mewujud ke dalam perilaku sehari hari yang dikenal dengan sebutan akhlak. Jadi, orang yang mengenal pencaksilat dengan baik, maka ia juga mengenal perilaku dan akhlak yang mulia.
Tarekat atau thariqah dengan demikian semata tidak dipahami sebatas zikir semata, baik sendirian maupun di dalam mejelis, lebih jauh tarekat adalah implementasi dan cerminan buah hasil dari zikir tersebut.
Akar sejarah pesantren yang tumbuh dari rahim masyarakat dengan sendiri tidak bisa terlepas dari ruamg dan waktu (circumtence). Sehingga aktivitas aktivitas kebudayaan bermula dari sini, terutama tarekat.
Namun demikian, pengertian tarekat di kalangan pesantren sendiri lebih dipahami sebagai sebuah organisasi kelompok yang mengikuti ajaran ulama tertentu. Kelompok kelompok ini mendirikan sebuah aliran sendiri yang dinisbatkan kepada pendirinya, seperti tarekat Qadiriyah yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Al Jilani atau tarekat Naqsyabandiyah yang dinisbatkan kepada Syekh Bahauddin Al Naqsyabandi. Belakangan, pengertian tarekat diperluas kepada pribadi yang mengamalkan satu amalan tertentu (mulazamah), seperti Hadratusyekh KHM Hasyim Asy’ari yang mengajarkan dan mengamalkan kitab kitab hadis Al Bukhari dan Muslim. Dalam artian ini, seorang penulis (muallif) bisa dikatakan sebagai pelaku tarekat dengan menjalani proses proses pengetahuan dan meningkatkan kemampuannya, baik secara kasabi maupun hudluri.
Di dalam tarekat, ilmu di dalam pengertiannya terbagi dua: kasabi dan kasyfi. Kasabi adalah ketika ilmu diperoleh dengan proses proses secara fisik seperti belajar dan mengajar di kelas, muthalaah sendirian atau melalui musyawarah-diskusi. Sementara kasyfi diperoleh dengan cara lebih spesifik melalui riyadlah dan mujahadah. Hudluri merupakan tingkatan seorang pelajar yang sudah dan sedang melampaui kedua proses tersebut.


















