• Latest
  • Trending

KH Amin Abdul Hamid: Mbah Dim Kaliwungu dalam Kenangan

10 Juni 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

KH Amin Abdul Hamid: Mbah Dim Kaliwungu dalam Kenangan

Redaksi Jurnalis Redaksi
10 Juni 2022
in Nasional
Reading Time: 2 mins read
A A

Kaliwungu-Net26.id Di antara guru mulia yang sangat dihormati oleh Allah yarham Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, 1940-2009) adalah KH Dimyati Rois. Dia adalah Pengasuh Pondok Pesantren Fadlu wal Fadlilah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Mbah Dim, demikian sebutan namanya biasa diucapkan oleh warga Nahdliyyin, dikenal sejak kecil sudah memiliki kelebihan-kelebihan yang aneh-aneh.

Santri Lelana
Penghormatan Gus Dur terhadap Mbah Dim karena menguasai sejarah NU dan ulama-ulama sepuh yang sezaman dengan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari. “Pada zaman itu, ada tiga kiai terkenal sama-sama memiliki nama Soleh,” terangnya pada medio 2017 di ndalem pesantren, “Mbah Soleh Darat, Mbah Soleh Langitan, dan Mbah Soleh Gresik. Ketiganya guru-guru alim yang menjadi tempat singgah mesantren selama Hadratussyekh menjalani laku lelana.” Laku lelana atau kelana adalah tradisi santri-santri zaman prakemerdekaan untuk bertabarukan (menambah keberkahan) dari parakiai dari pesantren ke pesantren yang umum di Jawa. Tradisi tersebut masih terlihat biasa pada masa awal kemerdekaan hingga tahun 1960an. Santri-santri lelana itu biasa berjalan kaki menempuh perjalanan jauh dengan bekal seadanya. Mereka hidup prihatin, sengaja tidak mau naik kendaraan, meskipun tantangan marabahaya sudah siap menghadang di depan. Susastra seperti Bujangga Manik (susastra Sunda) dan Bagus Burham Ranggawarsita adalah di antara yang mengisahkan orang-orang zaman dulu pergi mesantren dengan laku lelana.

ArtikelLainnya

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023
0

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023
0

Terima Kasih Prof, Selamat Jalan Prof

19 September 2022
0

Tradisional di Sana, Modern di Sini

14 September 2022
0
Load More

Dua Dimyati

Ada dua nama Dimyati yang mengiringi langkah Gus Dur manakala menjelang Reformasi 1998. Pertama, Abuya Dimyati, Cidahu, Pandeglang, dan Mbah Dimyati Rois Kaliwungu. Keduanya sama-sama memiliki kelebihan yang istimewa dan langka. Bisa dikatakan sebagai jimat NU.
Keduanya sama-sama memiliki pamor dan kharismatik. Yang satu dikenal sebagai guru thariqah yang antik sementara yang satu lagi dikenal sebagai ahli bahasa. Ya, Mbah Dim menguasai banyak bahasa Asing meskipun tidak pernah kursus atau sekolah khusus. Mbah Dim bisa dibilang santri kuthuk. Santri yang tidak mengenal dunia luar.

Mbah Dim lahir pada tanggal 5 Juni 1945 di Tegalglagah, Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Ia wafat tepat pada malam Jum’at dini hari, sekitar pukul 1.10 WIB di RS Tlogorejo Semarang. Jika ingat pesan Mbah Moen (KH Maemoen Zubeir, 1928-2019) dulu, maka Mbah Dim termasuk wali Allah. Sebab, menurut Mbah Moen, ulama yang wafat pada hari Jum’at ia masuk kategori wali Allah; kalau wafat hari Selasa ia masuk kategori ahli ilmu.

Kenangan pada Mbah Dim tidak sedikit yang melekat. Kalaupun sedikit, terasa dekat. Ia dikenang dan dihormati banyak pihak. اللهم اغفر له و ارحمه و عافيه واعف عنه

Previous Post

Buya Said: Ahlussunah wal Jama’ah sebagai Realitas

SELANJUTNYA

BNPT dan Pesantren Tebuireng: Jalin Penanggulangan Intoleran

Redaksi

Redaksi

SELANJUTNYA

BNPT dan Pesantren Tebuireng: Jalin Penanggulangan Intoleran

Presiden Jokowi: Rusia dan Persaudaraan Nusantara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In