
Yang dijadikan alasan kekerasan bisa terjadi di pesantren atau institusi instusi lain adalah masalah senioritas. Terutama, senioritas yang menindas. Setidaknya, ini bisa dibaca pada salah satu ungguhan tulisan seorang alumni salah satu Pesantren Modern yang dimuat ulang oleh salah satu media elektonik nasional.
Pada dasarnya, semua penyimpangan (bisa juga terjadi di dalam rumah tangga) karena kurangnya komunikasi. Titik! Hanya komunikasi.
Kecenderungan pesantren pesantren modern adalah menutup diri dari lingkungan masyarakat di sekitarnya, apalagi pesantren pesantren yang mendapat support pendanaan dari luar negari. Sehingga amaliah amaliah dan tradisi masyarakat di sekitar pesantren dianggap bertentangan dengan syariat Islam.
Pencaksilat berbeda dengan aksi aksi kekerasan. Kekerasan berkaitan dengan psikologi sosial. Disebabkan karena kontrol dan komunikasi sosial yang masih berjarak. Memang, tidak mudah untuk menciptakan seorang atau lembaga yang memiliki kepedulian sosial untuk melakukan pendampingan pendampingan di dalam membangun komunikasi. Adapun lembaga sosial pendidikan yang masih memiliki kepedulian sosial adalah pesantren pesantren yang selama ini dianggap terbelakang, tradisional dan Salaf. Sementara pesantren pesantren modern hampir tidak memiliki kepekaan sosial. Mereka hidup secara elit dan mengalienasi diri dari lingkungannya walau hanya sekadar untuk hadir dalam acara acara yang diselenggarakan oleh penduduk di sekitar pesantren.
Begitu pula, tawuran antarkelompok perguruan silat berlanjut hingga di jalanan dan menelan korban jiwa.

Pencaksilat merupakan tradisi ketangkasan, sama seperti jenis olahraga lainnya seperti sepakbola, bulutangkis, lari, renang, dan lain lain. Pencaksilat sering pula disebut olahkanuragan, artinya mengolah raga atau tubuh. Dari olahkanuragan tersebut, orang yang belajar pencaksilat tidak hanya dilatih fisik semata, melainkan juga emosi. Setiap pukulan memiliki arti dan takaran. Ada pukulan telak yang bisa mematikan dan ada yang hanya sekadar melumpuhkan.
Jika senioritas disalahkan, hal demikian bersifat kasuistik. Seorang senior memiliki standar di dalam melaksanakan tugas mereka. Seorang senior yang bijak, biasanya akan banyak membuka komunikasi kepada yuniornya. Sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Lagi pula, kemajuan studi seorang siswa sangat ditentukan oleh komunkasi ini.
Memang, tidak sedikit, pesantren yang masih menyelenggarakan olahkanuragan pencaksilat. Patut disyukuri, tradisi asli Indonesia demikian masih bisa dilestarikan oleh pondok pondok pesantren. Sementara di lingkungan masyarakat, tradisi pencaksilat belum tentu tetap bisa lestari. Dari pesantren pula, pencaksilat tidak sekadar hanya mengajarkan olahkanuragan, melainkan memperkuat spiritual. Bagaimanapun pencaksilat dapat menjadi wahana di dalam mengembangkan spiritual, karena memiliki filosofi yang unik.


















