Seorang teman santri mengeluh, betapa susah menepis kebohongan? Dia bercerita kalau setiap hendak sowan kepada seorang kiai sepuh akan merasa sangat khawatir: semua keburukannya akan “terbaca”. Sehingga ia senantiasa menghindar apabila diajak sowan.
Karena Datang Terlambat
Keluhan sang teman itu bukan suatu kebetulan belaka. Ada pengalaman yang benar benar terjadi sehingga ia begitu yakin.
Dikisahkan, ketika ia masih mesantren di sebuah pondok pesantren, ia mendapat giliran setoran. Istilah setoran ini sebuah kewajiban seorang santri untuk menghadap kepada kiai, gurunya, untuk mentashihkan bacaan Al Qurannya atau sorogan bacaan kitabnya. Pada acara tatap muka itu, setiap santri akan dibenarkan bacaannya ketika menalar Al Quran atau tulisan tulisan Arab Gundul yang tertera di kitab kuning di tangannya.
Syahdan, sang teman datang terlambat. Ia agak tergopoh karena teman temannya yang lain sudah duduk melingkari sang guru, siap siap untuk setoran. Ia sempat celingukan mencari cari posisi tempat duduk yang sudah penuh itu. Iapun kemudian menyelip di sela sela himpitan paha temannya.
Sang guru yang sudah sedia duduk di kursi itu sudah sangat sepuh dan cukup lama menderita sakit. Ditambah pandangannya yang mulai kurang awas. “Kamu yang datang terlambat, sholat Isya dulu!” ujar sang guru, tiba tiba.
Laksana tersambar petir, sang teman yang belum sholat Isya itupun kaget. Semua mata tiba tiba tertuju padanya. Kemudian, tertunduk takzim.
Kebeningan Hati
Cerita tersebut bukan sekali dua dapat didengar dari orang orang yang berbeda. Kejadian serupa memang sering terjadi. Dan, sudah umum.
Orang Jawa menyebutnya “kewaskitaan”. Atau, weruh sak durunge winarah. Ungkapan yang lazim didengar. Memang, tidak banyak dijumpai orang yang memiliki anugerah demikian, jika tidak benar benar menjaga kebersihan dan kebeningan hati. Itu pertama, kebersihan lahirnya juga diperlukan seperti tetap menjaga wudu agar tak batal. Kelebihan tersebut tidak saja berupa pandangan yang awas, melainkan juga dari indera penciuman yang tajam.
Di dalam biografi KH Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung diceritakan, suatu ketika ia kedatangan tamu banyak sekali. Tapi, ada seorang yang membuatnya tidak betah sehingga muntah muntah. Guru tarekat itu dikenal memiliki banyak kelebihan. Dari penciumannya yang tajam, ia dapat mendeteksi satu persatu tamu yang datang. Dari mana asalnya dan apa saja perilakunya?
Memang, cerita cerita demikian tidak populer bagi kalangan akademisi, bahkan banyak yang mengingkarinya dengan dalih macam macam. Maka, tidak heran, jika kemudian muncul ketergantungan pada alat “lie detectors” yang mahal harganya. Barang yang tidak lagi dipakai oleh orang Amerika karena sifatnya sebagai mesin pengukur detak jantung. Dan, jangankan perangkat “lie detectors”, mesin pencari Google saja masih bisa dimanipulasi untuk menutupi plagiasi. Tidak percaya? Tanya pada yang biasa penulis!
















