Menyebut kata Galesong, segera akan terkenang sesosok pahlawan gagah berani yang mendukung penuh Pangeran Trunajaya yang menghalau oligarki Belanda menyerbu Keraton Mataram. Saat itu, Sultan Amangkurat I atas dukungan VOC mulai naik tahta menggantikan ayahnya Sultan Agung Hanyokrokusumo. Dengan kekuatan penuh sultan sultan dan kiai kiai pesantren, perlawanan Pangeran Trunajaya berhasil mengusir Sang Sultan dari istana hingga wafat di tengah jalan.
Karaeng Galesong sang pahlawan. Menurut sebagian pendapat ia adalah putera Sultan Hasanuddin yang tidak menerima putusan ayahnya atas Perjanjian Bongaya. Terutama, setelah VOC mulai memindahkan kekuasaannya dari Maluku ke Batavia. Mulai dari Surabaya, Malang, Jombang, Madiun, Ngawi, hingga memasuki ibukota kerajaan Mataram. Kemenangan demi kemenangan, Pangeran Trunajaya memeroleh kemenangan. Tentu, kemenangan itu tidak semata atas kelemahan Sang Sultan, melainkan atas dukungan dan kekompakan sultan sultan yang berkuasa di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, hingga Sulawesi dan kiai kiai pesantren. (Redaksi).
Takalar-jatim.net26.id – Tanpa terasa umat Islam saat ini telah memasuki dan menjelang akhir bulan yang kedua dalam kelender Islam yakni bulan Safar. Sebagian ulama dalam beberapa karyanya senantiasa menyandingkan kata Safar dengan kata “al khair” dengan menyebut shafar al khair (Safar yang baik) sebagai bentuk tafa’ul (berharap kebaikan dan optimis). Dalam berbagai kitab dan asrar Auliyaillah, disebutkan juga bahwa pada hari rabu terakhir di bulan Safar, Allah menurunkan 70.000 bala ke atas bumi ini.
Pada hari Rabu, 21 September 2022, bertempat di Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Zawiyah Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah mengadakan kegiatan Riyadhah Spiritual Shafar. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai kebaikan yang ada pada bulan Safar ini sekaligus sebagai ikhtiar batin untuk menolak bala yang turun di bumi.
Riyadhah Safar ini dipimpin langsung oleh Syekh Irsan Daeng Mangngerang Al Makasari. Acara dimulai dengan ritual mandi shafar di pantai Galesong, setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan doa dan zikir di masjid. Kegiatan Riyadah Safar di akhiri dengan menziarahi makam para Auliya dan Masyayekh yang ada di Kecamatan Galesong.

















