• Latest
  • Trending

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 01

10 Agustus 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Rabu, 19 Agustus 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 01

Bagian Satu

Muhammad Sakdillah Jurnalis Muhammad Sakdillah
10 Agustus 2022
in Berita Umum
Reading Time: 2 mins read
A A

Asal Usul Kata “Maula”

Inilah arti penting memahami budaya yang mencakup bahasa di dalamnya. Bahasa sering pula disebut sebagai “cermin budaya”. Suatu suku-bangsa akan terlihat apik dan modern manakala bahasanya mulai tertata rapi. Baik dari segi “grammar’ maupun kekayaan maknanya.

Bahasa Arab mengalami puncak kemodernan setelah turunnya ayat ayat suci Al Quran yang dapat dilihat dari beberapa aspek seperti susastra, sejarah, logika, dan logos (wahana pengetahuan). Kemodernan bahasa Al Quran memang bisa dipandang misteri, karena sulit untuk digambarkan fakta dan data isi dunia dan alam semesta terangkum di dalamnya. Belum lagi, kata kata serapan dari bahasa asing (a’jami) dapat pula termuat dari konteks ke-Arab-an. Sehingga untuk menjelaskan dari diksi diksi Al Quran memerlukan berlembar lembar kertas dan aspek aspek pengetahuan yang tidak sedikit, baik dari segi waktu maupun materinya.

ArtikelLainnya

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024
0

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023
0

Islam Mengajarkan Budaya Berpakaian dan Emas Kawin

1 November 2022
0

Presiden yang Memahami Keadilan dan Kemakmuran

28 Oktober 2022
0
Load More

Kehebatan Al Quran di situ. Hanya dalam rangkaian kata sebanyak 30 juz mampu merangkum dari sekian banyak pengetahuan dunia. Oleh karena itu, dalam terma terma tertentu, Al Quran menggunakan bahasa bahasa A’jami yang asing di telinga (sima’i) orang orang suku-bangsa Arab. Demikian pula, dengan kata “Maula”. Apakah kata tersebut diambil dari orang orang suku-bangsa Arab?

Jangan dilihat dari segi penulisan aksaranya yang menggunakan simbol (huruf) Arab, tapi dari segi makna dan kebiasaan pemakaiannya.

Kata “Maula” dari segi filologinya (ilmu asal usul kata) berangkat dari pemikiran dan kebiasaan yang akrab di telinga masyarakat suku-bangsa Barbar. Sama seperti kata “Tuan” dalam bahasa Melayu, “Bendara” dalam bahasa Jawa, demikian pula dengan kata “Maula”. Jadi, kata “Maula” tersebut bukan menunjukkan status sosial seseorang, tapi tergantung pada pemakaiannya dalam menghormati seseorang sehingga dijadikan nama gelar.

Kata ini banyak dipakai di Afrika Utara. Terutama, dari kalangan zuriah Rasulullah saw yang belakangan dipakai pula untuk pemimpin sebuah thariqah. Maula atau Maulay sama seperti sematan “Sidi”, singkatan dari “Sayyidi” dalam thariqah Naqsyabandiyah di Asia Tengah; atau, sering pula dipakai istilah “Baba” di India. Penggunaan kata Syekh juga populer di Asia Barat dan India. Di India, kata Syekh identik dengan “Sikh”, thariqah yang mempraktikkan beberapa gabungan gaya zikir dan yoga. Kata kata atau gelar gelar sematan demikian berlaku turun temurun sesuai dengan garis thariqah masing masing.

Suku-bangsa Afrika Utara

Jauh sebelum agama Islam datang dibawa oleh orang orang suku-bangsa Arab, masyarakat Afrika Utara sudah mengalami kemajuan kemajuan yang pesat di bidang peradaban. Hal ini ditandai dengan Perang Roma yang panjang dengan suku-bangsa Kartago yang berasal dari suku-bangsa Fenisia. Begitu pula, ekspansi suku-bangsa Yunani yang mendirikan Kota Iskandariah oleh Dinasti Ptolemy (Firaun). Ditambah, gelombang suku-bangsa Nubia dari Afrika Selatan yang turut meramaikan jalur utara Pantai Afrika.

Maka, tidak salah, jika kemudian penduduk Benua Eropa menaruh iri terhadap kemajuan kota kota pelabuhan di Afrika Utara yang cantik dan subur. Dalam legenda Cleopatra, Mesir digambarkan seperti seorang Dewi yang diperebutkan karena kecantikan dan memakmurkan rakyatnya.

Penjajahan dan penaklukan yang dilakukan oleh orang orang suku-bangsa Eropa, terutama Kekaisaran Romawi, telah merubah pola budaya Eropa sebagai ancaman. Legenda Hannibal yang hampir mengalahkan Kekaisaran Romawi merupakan perlawanan “budak” dalam persepsi Romawi. Munculnya istilah “Barbar” atau Barbarosa adalah sematan yang diberikan bagi suku-bangsa Afrika Utara yang berbilang bilang jumlahnya. Mereka dianggap Barbar karena dianggap tidak memiliki peradaban dan pandangan hidup yang terhormat. Berperang di luar perikemanusiaan. Padahal, kekejaman yang ditimbulkan oleh suku-bangsa Romawi tidak kalah brutalnya daripada mereka yang dianggap Barbar.

Tags: KH Maemun Zubeir
Previous Post

Sosial Kapital, “Never Ending” Pesantren

SELANJUTNYA

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 02

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

SELANJUTNYA

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 02

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 03

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In