• Latest
  • Trending

Sosial Kapital, “Never Ending” Pesantren

10 Agustus 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 6 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Sosial Kapital, “Never Ending” Pesantren

Muhammad Sakdillah Jurnalis Muhammad Sakdillah
10 Agustus 2022
in Nasional
Reading Time: 3 mins read
A A

Pada Haul KH Zainuddin Djazuli di Pesantren Plosomojo, Kediri, Buya Said Aqil Siroj menyebutkan potensi besar yang dimiliki oleh pesantren, berupa sosial kapital atau sumberdaya manusia.

Pesantren Rasulullah 

Momen Hijrah menjadi titik tolak umat Islam dalam melakukan kebangkitan, ketika Rasulullah saw mulai menata peradaban (tamaddun, madinah). Pada fase Madinah ini, tauhid tidak menjadi tema penting dalam wacana Kenabian, melainkan mulai menanjak pada aspek aspek ilmu, pengetahuan, tradisi, dan hukum. Maka, tidak heran, jika kemudian ayat ayat hukum banyak diturunkan pada fase Madinah ini. Begitu pula, ilmu dan pengetahuan mulai berkembang tatkala pasukan musuh yang memiliki potensi ilmu seperti matematika dapat bebas dari hukum perbudakan manakala mau menyumbangkan ilmunya kepada penduduk Madinah. Pada fase Madinah ini, aspek peradaban menjadi perhatian utama Rasulullah saw dalam menegakkan “negara” kuat. Dalam praktik sosial, dibuat satu ikatan hukum tetap antarsuku bangsa yang dinamakan “Piagam Madinah”. Meskipun, sebutan “Negara Madinah” masih menjadi perdebatan parasarjana.

Memang, fondasi pertama yang didirikan oleh Rasulullah saw di Madinah adalah ketakwaan dengan mendirikan masjid Quba’. Dari masjid tersebut, tatanan sosial, hukum, dan budaya mulai diimplementasikan ke dalam kehidupan nyata.

ArtikelLainnya

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023
0

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023
0

Terima Kasih Prof, Selamat Jalan Prof

19 September 2022
0

Tradisional di Sana, Modern di Sini

14 September 2022
0
Load More

Namun, satu hal penting untuk menjadi perhatian bersama bagi umat Islam dengan kehadiran cikal bakal “pesantren Rasulullah saw”. Pesantren itu diisi oleh ahli ahli ilmu seperti Salman Al Farisi dan Abu Hurairah. Meskipun, jarang terlibat langsung dalam aktivitas aktivitas politik dan perang, Abu Hurairah bisa dikatakan sebagai periwayat hadis Rasulullah saw yang terbanyak.

Di Pesantren Rasulullah ini, mereka hidup penuh dengan keprihatinan untuk menjunjung tinggi keilmuan dan hidup zuhud. Jihad mereka bukan dengan menggunakan pedang selayak sahabat sahabat lainnya, melainkan dengan menghapal Al Quran, berdiskusi, meriwayatkan hadis, serta memperkuat ketahanan batin yang dikenal dalam istilah belakangan sebagai “sufi”. Kelompok yang dikenal dengan sebutan zawiyah (pojok) Ahlus Sufi.

Untuk memperkuat ketahanan ini pula, Rasulullah saw membangun tempat tinggal yang berdempetan dengan masjid sehingga muncul aktivitas aktivitas yang bersifat totalitas dalam membangun tatanan budaya, terutama ilmu dan pengetahuan.

Dimensi Berkelanjutan

Mengapa pesantren di Indonesia belakangan sering diserang dengan isu isu dan pemberitaan pemberitaan negatif oleh media media mainstream? Karena, kekuatan sosial kapital atau الثورة الاجتماعية dalam versi Buya Said hanya dimiliki oleh pesantren. Bukan sekolah. Sebab, sekolah telah membuat jarak sosial antara pelajar dan masyarakat. Sehingga dari aspek ilmu sering tidak “nyambung”. Dari sekolah pula, telah terjadi polarisasi pada masyarakat seperti “umum” versus “agama”, “nasionalis” versus “islam”, “islam” versus “komunis”, “santri” versus “abangan”, dan seterusnya. Padahal, sekat sekat demikian tidak pernah ada di dunia pesantren. Karena, pesantren bersifat inheren dan integral.

Dinamika kemajuan pesantren cukup signifikan, terutama pascareformasi. Pesantren yang dimusuhi sejak masa Belanda dan masa Orde Baru, kini, lebih bisa memberi kontribusi positif bagi budaya, terutama ilmu dan pengetahuan. Pesantren bisa lebih terbuka kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan misalnya dalam penyelenggaraan pendidikan karena bisa dapat saling mengisi. Pesantren memberi kontribusi budaya dan agama kepada negara, sebaliknya negara memberikan kontribusi kemajuan bagi peningkatan program program pendidikan di pesantren. Justru, relevansi madrasah hampir nyaris hilang. Sebagaimana madrasah dibentuk pada mulanya adalah untuk menyatukan persepsi persepsi berbeda dari kalangan internal umat Islam sendiri. Perbedaan perbedaan paham di dalam menafsirkan Al Quran, penerapan fiqh, serta implikasi politik akibat polarisasi yang dihasilkan dari paham paham sekolah.

Dari pesantren, tidak hanya budaya, bahkan elemen elemen budaya yang mendasar dapat menjadi motor penggerak bagi kemajuan bangsa. Tidak sedikit, “stakeholder” yang dihasilkan dari pesantren menjadi modal utama berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang “the founding father” seperti Ir Soekarno, Drs Moh Hatta, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Kahar Muzakkir, dan Ki Hajar Dewantara adalah di antara tokoh tokoh yang dibesarkan dari dunia pesantren.

Tags: Ir. SoekarnoMoh Hattapesantren
Previous Post

Lucunya Santri Sukses yang Tak Pernah Kenal Kantor Kuwu

SELANJUTNYA

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 01

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

SELANJUTNYA

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 01

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 02

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In