Sekarang ini gerakan literasi meluas melampaui soal aksara (letters). Soal-soal budaya dan media audio-visual dan elektronik masuk dalam wilayah gerakan itu. Dukungan dari pihak pemerintah maupun swasta relatif besar baik secara finansial maupun moral. Tidak sedikit tenaga terkuras untuk menjalani proses ke arah pencapaian kemampuan masyarakat untuk melek aksara, budaya, dan media. Tentu kemampuan untuk melek itu dimaksudkan agar masyarakat dapat mengenali mana info yang benar dan mana yang salah. Namun ada satu cara yang paling mudah, murah, dan efektif untuk sampai ke tujuan itu. Masukkan pembuat berbagai info yang salah ke penjara. Rakyat otomatis akan melek dengan sendirinya, tahu mana yang benar dan salah.
Faruk HT
Menghargai susastra adalah menghargai pendidikan. Sastrawan Nasional terkenal, Ahmad Tohari (AT), menyanyangkan sejak 1953 susastra tidak menjadi bahan pelajaran pokok di Indonesia. Artinya, pendidikan karakter akan sangat masih jauh digapai. Karena, pendidikan susastra (edususastra) tidak semata hanya berpuisi, berprosa, dan berdrama saja. Lebih dari itu, susastra dapat mendidik karakter anak anak suku-bangsa di dalam mencintai Indonesia.
Karakter Pragmatis
Bahwa susastra tidak hanya sekadar berpuisi, berprosa, atau sekadar berdrama saja. Lalu, menyibukkan diri untuk mencari cari genre dan teori baru. Lebih dari itu, susastra adalah penghayatan. Seorang sastrawan tidak melulu harus menampilkan karya karya sastranya menjadi sebuah antologi atau cerita cerita roman. Sebagai penghayatan, susastra dapat menjadikan karakter hidup seseorang ketika berada di lingkungan masyarakat.
Karakter pragmatis yang tampak dan hadir dalam drama drama kehidupan sosial politik belakangan ini merupakan hasil dari kehidupan pragmatis yang akut. Kehadiran sebuah “gang mafia” yang tanpa disadari telah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Itu baru pada satu contoh kasus yang sedang heboh alias viral. Oadahal, masih banyak persoalan persoalan lain yang tak terbaca dan terkatakan karena munculnya isu isu baru yang kebih besar.
Permainan media menjadi salah satu aktor yang menciptakan drama drama besar tersebut seakan telah menjadi sah. Karena, menjadi satu satunya lembaga yang memiliki wewenang kekuasaan selain kekuatan massa, uang, dan militer. Penggiringan opini masyarakat adalah salah satu upaya membangun kekuasaan itu.
Perhatian yang Lemah
Literasi menjadi program dan agenda penting untuk membangun kuasa media tersebut sehingga susastra pun bisa menjadi abai. Tujuan tujuan media seringkali tidak lagi mendidik karena tak lagi mampu berhadapan dengan berita berita bohong (hoax). Kalau dulu susastra disebut sebagai penyebar berita berita bohong, maka sekarang media sebagai alat telah menjadi mesin penyebar yang lebih efektif. Namun, sayang, bisa dibilang nirsusastra.
Edususastra memerlukan waktu yang tak sekejap. Generasi generasi muda sudah mulai melek literasi. Mereka lebih mudah diajarkan cara menulis yang baik, meskipun belum pada tahap apresiatif. Dengan cara sendiri, mereka mengulik kumpulan kumpulan cerita novel online, cerita cerita radio, atau bahkan membuat konten konten kreatif. Bagi mereka, cerita cerita brutal dapat diungkapkan melalui sebutan sebutan latah pada “game game” yang mereka mainkan.
















