• Latest
  • Trending

Diri yang Mendamaikan Dunia

17 Agustus 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 6 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Diri yang Mendamaikan Dunia

Akhi Fadli Ilmi Jurnalis Akhi Fadli Ilmi
17 Agustus 2022
in Sejarah dan Sastra
Reading Time: 2 mins read
A A

Tema yang diangkat adalah tentang diri. Diri dan jati adalah dua dimensi yang bisa sama, juga bisa berbeda entitasnya. Perlu kecermatan dan spiritualitas yang terlatih untuk memahaminya. Bisa diceritakan, tapi alangkah baiknya disembunyikan. Cukup diri yang tahu. Karena, tidak semua harus ditampilkan, kecuali hanya mengumbar fitnah dan pengingkaran. (red.).

Melawan Diri Sendiri

Air mineral yang biasa diminum mereka habis. Aku bergegas menuju sepedamotorku untuk membeli. Mereka kehausan, katanya. Tidak tega kalau melihat wajah mereka yang sendu karena berharap air gratisan itu. Mereka sedang tadarus, mungkin wajar bila haus.

ArtikelLainnya

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023
0

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023
0

Masa Kegelapan Datang Diganti dengan Perang

15 November 2022
0

Sastra dan Pusat Peradaban di Nusantara

5 November 2022
0
Load More

Jalanan ramai. Lalu lalang kendaraan silih berganti. Pejalan kaki juga tak henti menepi. Semua terlihat bergerak. Padahal beberapa menit lalu, aku memandang tadarus malam ini sepi. Hanya segelintir anak yang datang.

Teringat dawuh almarhum KH Husnan Nafi’ Al Hafidh, “Mene nang akherat iku koyok nang bungkul (makam Sunan Bungkul Surabaya) iki le, sing nang makam ngaji sepi. Sing nang njobo rame.” Besok di akhirat kata beliau, penghuni surga itu damai (sepi), sedangkan neraka dihuni dengan riuh teriak mereka yang sedang disiksa. Dawuh ini bukan sebuah legitimasi tunggal bahwa yang sedang mengaji itu baik dan yang tidak belum baik. Hanya saja, saya melihat dari sisi bagaimana manusia selalu memandang sempit setiap masalah yang datang kepadanya. Uang di dompet berkurang, maka pikiran manusia seakan menyebutkan banyak hal dibaliknya. “Ah, uang tinggal sedikit, bagaimana ini?” atau “Rezekiku kalau begini begini saja bagaimana ini besok?”

Pernyataan dan fikiran yang menyempitkan pola pikir, juga merupakan penghambat manusia untuk lebih obyektif melihat semua kejadian di dunia. Maka, benar ketika Rasulullah saw menyatakan, hati adalah prosesor manusia. Dari sanalah, semua diproduksi. Diatur. Dan, mampu mengendalikan dunia.

Jadi, jika detik ini ada yang kita anggap masih sedikit, maka sebenarnya bukan sesuatu itu yang sedikit, tapi kita yang berpikir hal itu memang sedikit. Seperti memandang satu detik itu tidak berharga, padahal bagi pelari maraton, itu adalah pembeda bagi seorang pemenang dalam sebuah ajang olimpiade.

Semoga, mereka yang setiap detik bertarung dengan “dirinya”, selalu diberikan petunjukNya. Karena sifatNya adalah Al Huda, Sang pemberi petunjuk.

اللهم اجعل الدنيا في ايدينا ولا تجعل الدنيافي قلوبنا

3 Agustus 2022.

Tags: Diri
Previous Post

Film nan Senyap di Tengah Keramaian

SELANJUTNYA

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

Akhi Fadli Ilmi

Akhi Fadli Ilmi

Dosen dan penulis buku tinggal di Surabaya اللهم مع القرآن

SELANJUTNYA

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

Buruh Jombang Usul Libur Nasional Di Hari Berdirinya NKRI 18 Agustus

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In