• Latest
  • Trending

Lemahnya Pesantren di Muka Sekolah Sekolah Umum

30 Agustus 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Minggu, 18 Oktober 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Lemahnya Pesantren di Muka Sekolah Sekolah Umum

Jatim Net26 Jurnalis Jatim Net26
30 Agustus 2022
in Pendidikan dan Wisata
Reading Time: 2 mins read
A A

Sejak zaman Polemik Kebudayaan, cemooh terhadap tradisi dan pesantren santer terdengar. KHA Wahab Chasbullah-ketika mendirikan partai-tak luput dari cercaan sinis. “Mana bisa orang pesantren membikin partai?” kira kira demikian cemooh saat itu, karena KHA Wahab Chasbullah menyatakan keluar dari Partai Masyumi. Begitu pula, tak segan segan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) meminta agar meninggalkan tradisi dan budaya sendiri. Modern adalah jawaban atas kemunduran bangsa Indonesia di mata bangsa bangsa asing. “Kita tak bisa hidup seperti pada zaman zaman Borobudur dan Prambanan,” demikian, kira kira. Selengkapnya dapat dibaca pada Polemik Kebudayaan.

Dalam banyak hal, M. Nurcholish Madjid (Cak Nur) banyak menyoroti perkembangan politik dan budaya di Turki dan Jepang. Di satu sisi, Turki “dianggap maju” karena telah meninggalkan tradisi mereka seperti pendidikan madrasah. Terlepas, apakah Kemal Attaturk dari kalangan Yahudi atau bukan yang memelopori Turki Muda untuk merebut kekuasaan Kaisar, yang jelas Turki telah menjadi negara yang “modern” dari segi birokrasi dan militer. Sebaliknya, kemodernan Jepang karena bertahan pada tradisi mereka dengan kukuh. Jepang juga maju di bidang militer dan teknologi dengan tanpa mengabaikan tradisi kerajaan mereka.

ArtikelLainnya

MTs Madrasatul Quran Tebuireng Fasilitasi FASTA Gratis

11 Oktober 2022
0

Pencaksilat di Pesantren sebagai Sumber Kekerasan?

16 September 2022
0

Pentingnya Menghafal dalam Belajar

13 September 2022
0

Reaktualisasi Pencaksilat di Indonesia (Bagian Satu)

8 September 2022
0
Load More

Keheranan justru muncul, ketika pendidikan madrasah di Turki ditiadakan, pesantren di Indonesia masih tetap mampu bertahan. Terutama, dalam meregenerasi ulama. Meskipun, tidak sedikit muncul kelompok kelompok modernis dan fundamentalis “modern” yang turut meminggirkan pesantren dengan isu isu agama mereka yang sumir. Walhasil, kemodernan yang mereka capai dan raih adalah “kelangkaan ulama”. Tidak ada stok ulama yang dihasilkan dari kerja kerja modernisasi mereka.

Dan, ketika modernisme mulai ditinggalkan di tempat kelahirannya sendiri, Barat, bahkan Arab Saudi mulai kembali kepada tradisi, kesadaran pada kemodernan itu, kalangan modernis dan fundamentalis mulai kehilangan arah di zaman yang tidak penuh dengan kepastian seperti saat ini. Kelemahan kelemahan pesantren di muka sekolah sekolah umum yang dipandang selama ini ternyata tidak memiliki alasan pasti. Problem problem karakter, budaya, dan moral telah menunjukkan wujud aslinya melalui korupsi, kriminal, dan ketimpangan ketimpangan sosial lainnya. Kemajuan di bidang birokrasi dan militer tidak menjamin kemajuan budaya.

Tags: kemodernanmodernpesantren
Previous Post

Sekolah sebagai Problem Peninggalan Belanda

SELANJUTNYA

Di Balik Omong Kosong Tentang Peradaban

Jatim Net26

Jatim Net26

SELANJUTNYA

Di Balik Omong Kosong Tentang Peradaban

Jamuniro: Istilah Kata yang Diberikan oleh Gus Mus

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In