Jombang-Jatim.Net26.id – Salah satu bentuk kaderisasi di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng (MQ) Tebuireng adalah memberikan kesempatan kepada santri yang sudah selesai hafalan Al Qurannya atau santri pascawisuda hafidh untuk menjadi imam sholat, terutama sholat Maghrib.
Imam sholat Maghrib berjumlah 30 orang. Nama nama mereka terpampang di dalam sebuah pigura kaca, tergantung di dekat pengimaman masjid. Mereka selalu bergantian setiap hari selama satu bulan; maqra’ yang dibaca berurutan dari juz 1 sampai 30; rekaat pertama satu halaman dan rekaat kedua satu halaman berikutnya. Total setiap sholat Maghrib sang imam membaca 1 lembar Al Quran. Jika 1 juz berjumlah 10 lembar, maka 30 juz ada sekitar 300 halaman, berarti satu tahun paraimam bisa mengkhatamkan Al Quran. Juz pertama dimulai pada bulan syawal, juz tiga puluh berakhir pada bulan Sya’ban.
Setiap tahun selalu ada penambahan dan pengurangan jumlah imam. Hal ini dilakukan agar kaderisasi imam berjalan terus menerus.
Pengangkatan imam sholat Maghrib di MQ Tebuireng mempertimbangkan banyak faktor. Tidak hanya senior, lancar, faham ilmu fiqih, tapi harus berperilaku baik, karena sang imam nantinya akan menjadi panutan masyarakat setelah pulang atau boyong.
Menjadi imam masjid MQ Tebuireng memang harus siap mental, lahir dan batin, karena disimak oleh ribuan makmum yang sedang berproses menghafal Al Quran. Salah sedikit saja sudah bisa diketahui oleh paramakmum. Dengan demikian, sang imam harus benar-benar lancar hafalannya.
Dari proses kaderisasi imam tersebut akan melahirkan sosok imam sholat yang baik, terbukti banyak alumni MQ Tebuireng menjadi Imam masjid di seluruh pelosok negeri dari masjid desa hingga nasional, bahkan menjadi imam di negara negara Eropa, Asia Tenggara, bahkan Timur Tengah.
Beberapa di antara mereka adalah Gurutta Syam Amir Yunus, Pengasuh Pesantren Al Quran Imam Ashim, yang pernah menjadi imam besar di masjid kebanggaan masyarakat Makassar, Masjid Al Markaz Al Islami. Jejaknya kemudian diteladani yuniornya, Haji Azhar, juara dunia MHQ di Iran dan Jordania. Ia menjadi imam tetap rawatib Masjid Agung 45 Makassar hingga kini.
Imam masjid berikutnya adalah H Ridho Amir. Ia menjadi Imam di Masjid Raya Batam dari tahun 1999. H Ridho Amir juga memiliki kader penerus, Ridlun Artol. Ridlun tidak hanya menjadi imam masjid di kota Batam, ia kerap bolak balik Batam Singapura untuk menjadi imam di Masjid Sultan Singapore dan Masjid Al Falah Orchard Road Singapura, kawasan elit di Singapura.
Bagi yang pernah sholat berjamaah di Masjid Al Akbar Surabaya, akan mendengarkan syahdunya lantunan bacaan Al Quran Dr H Acmad Nasich Hidayatulloh, dosen UINSA Surabaya. Nasich secara rutin menerima undangan dari KBRI Belanda untuk menjadi imam pada bulan Ramadhan.
Di Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri, Depok, Jawa Barat, juga pernah mempercayakan Aidil Haq, alumni MQ Tebuireng asal Palu untuk menjadi imam di sana.
Pada 2016, Andy Purnomo, asal Tegal, berhasil mengikuti seleksi imam masjid di Uni Emirat Arab (UEA). Dia ditempatkan di Masjid Malik bin Abi Salim Kota Fujairah hingga sekarang.
Pada 2021, dua temannya menyusul ke UEA, Gus Ahmad Sunarto, menantu KH Ahmad Musta’in Syafi’ie, ditugaskan di Masjid Ali bin Hasan, daerah Suuq Kuwaiti Ra’sul Khaimah; sedangkan Rifqy Safari Al Ayubi, asal Kerawang, ditempatkan di Masjid Ali bin Abi Ruwais, tepatnya di Kota Al Ruwais, Abu Dhabi.
Selain nama nama di atas, masih banyak alumni MQ Tebuireng yang mengabdikan dirinya di masjid yang belum bisa disebut satu persatu.
Belum lagi nama besar KH Ulil Abshor, juara dua tiga puluh juz tingkat internasional, yang juga menjadi imam besar di Masjid Agung Semarang hingga kini.
Proses kaderisasi imam Masjid di MQ Tebuireng berlangsung sejak sebelum didirikan MQ Tebuireng hingga sekarang. Ketika Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar menjadi imam tetap di Masjid Pesantren Tebuireng pada masa Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari.
Kegiatan tersebut akan terus melahirkan sosok sosok imam dengan kapasitas bacaan Al Qur’lan dan ilmu syar’i yang mumpuni, dada yang lapang, wawasan yang luas, dan sikap toleransi yang tinggi, sehingga mampu berperan menjadi penyatu di tengah perbedaan dan keragaman kaum muslimin, di bawah naungan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan spirit Tebuireng.
















