Muncul ke dalam benak, bagaimanakah rupa dan sosok Imam Mahdi dan Nabi Isa as yang akan turun di akhir zaman?
Keadilan yang memungkinkan bisa tidaknya persatuan.
Antara Fiksi dan Fakta
Terus terang, secara faktual, kemunculan keduanya sulit diterima akal dalam konteks kekinian, kecuali keduanya menunjukkan keajaiban keajaiban yang dapat disaksikan oleh banyak. Itupun memang seperti gambaran imajinasi imajinasi di dalam film film animasi. Ketika kemukjizatan memang tak bisa dinalar dalam seketika.
Hal ini dapat dilihat perseteruan antara Pesulap Merah dan Gus Syamsudin yang marak misalnya. Kendati kedua duanya tidak menghadirkan diri sebagai sosok yang diidamidamkan oleh sebagai benar benar “Juru Selamat”. Trik trik kemahiran tangan dan tipuan tipuan kamera dapat dengan mudah dilacak. Kurang apa gigihnya Ahmad Musaddeq dan Ratu Lia Eden untuk mendaku sebagai sosok nabi baru? Hanya bisa dipandang laksana dagelan dagelan zaman semata. Artinya, untuk menghadirkan cerita cerita masa lalu yang telah menjadi fiksi sangat sulit terwujud.
Begitu pula, betapa gigihnya persatuan Islam untuk menegakkan kekhilafahan ke dalam satu bendera. Beragam makna penafsiran serta aksi aksi politik secara nyata belum mampu diwujudkan untuk sekadar mengatakan “tidak”. Ilusi dan delusi baru tiba pada puncak halusinasi.
Tidak Linear
Cerita cerita fiksi memang dirawat dengan baik oleh aliran aliran tertentu maupun agama agama tertentu. Karena, memang lahir dari masa lalu yang panjang. Fiksi demikian tidak dapat disangkal. Meskipun dapat dipelihara dalam kelompok kelompok kecil yang bersifat rahasia.
Puncak pemikiran sejarahyang bersifat linear tidak akan mampu menjawabnya, kecuali membangun sistem yang bersifat dialektis. Artinya, mengumpulkan satu persatu materi sehingga mendapat rumusan rumusan baru. Misal, Nalar Bayani dalam filsafat muslim mungkin masih sangat relevan bagi satu kalangan tertentu di dalam memecahkan problem problem realitas. Namun, tidak bisa diterima pada kelompok lain yang sudah menolak sejak jauh jauh hari dari kalangan muslim Eropa. Bagi muslim Eropa, Nalar Burhani jauh lebih bisa diterima daripada analogi analogi yang telah dibangun oleh Nalar Bayani. Sehingga perlu dirumuskan secara sistematis untuk menerima keduanya untuk mengatakan menolak dari Nalar Irfani (sufisme). Boleh jadi, Nalar Irfani tertolak di Barat, tapi resistensi yang panjang (karena jarak waktu dan tempat yang jauh) dapat saja berlaku global ketika jarak dan tempat itu sudah semakin dekat seperti saat ini. Artinya, kisi kisi yang membedakan antara Timur dan Barat dapat saja berjalan cair dan bersenyawa.
Meskipun perbedaan itu niscaya, namun terdapat aturan atau rumusan baru yang secara alami dapat berlaku global. Senyampang, keadilan dapat tercipta. Luka luka sejarah dapat saja sembuh manakala waktu telah berlalu dan secara perlahan terlupakan.
Dengan demikian, kesepahaman dengan menolah konservatisme antarkelompok dan golongan umat Islam dapat saja muncul dalam personifikasi ideologi Mahdiisme. Begitu pula, sikap berbeda dalam sejarah yang memisahkan pemahaman pemahaman Yahudi dan Nasrani akan memunculkan sosok Nabi Isa as dalam personifikasi yang berbeda. Selama, masing masing mampu menolak pandangan pandangan konservatif yang akan dijawab dengan hubungan hubungan yang lebih ideal dan adil bagi humanisme.
















