• Latest
  • Trending

Buya Said: A Single Majority in Culture

29 Mei 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Buya Said: A Single Majority in Culture

Muhammad Sakdillah Jurnalis Muhammad Sakdillah
29 Mei 2022
in Nasional
Reading Time: 2 mins read
A A

Umat manusia memang diciptakan beragam. Dari sidik jari saja, setiap orang berbeda. Hal ini menandakan kekuasaan Allah swt yang begitu besar hingga perkara-perkara detil dan kecil adalah bagian dari kuasaNya.

Dari perbedaan-perbedaan tersebut, maka sejak awal pun manusia sudah diajarkan konflik dan bertikai. Qabil yang dibunuh oleh Habil adalah gambaran manusia pertama yang membunuh saudaranya sendiri. Allah telah memerintahkan kepada keduanya untuk melakukan qurban (pendekatan) kepadaNya dengan barang-barang murah milik keduanya, ternak dan sayur-sayuran. Tapi, tetap saja, kekhilafan manusia yang dikuasai oleh nafsu tidak mampu dibendung sehingga qurban itupun harus menelan korban jiwa.

ArtikelLainnya

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023
0

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023
0

Terima Kasih Prof, Selamat Jalan Prof

19 September 2022
0

Tradisional di Sana, Modern di Sini

14 September 2022
0
Load More

Kisah qurban (mendekatkan diri padaNya) dan korban merupakan bagian dari sejarah dan epos manusia. Dalam kisah-kisah susastra Hindustan (purana), ada disebut pengorbanan aliran darah putera dari Ibu Pertiwi. Dan, seterusnya, kisah-kisah tradisi manusia di berbagai belahan dunia. Penumpahan darah adalah suatu keniscayaan, baik melalui peperangan maupun pengorbanan.

Pengorbanan tertinggi dalam beragam kepercayaan dan keyakinan adalah dipersembahkan kepada Sang Adikodrati. Adikodrati berarti kekuasaan di luar kodrat manusiawi biasa, bisa disebut leluhur, dewa, bahkan Tuhan. Bagaimana dikisahkan sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw, ayahnya, Abdullah, adalah korban yang harus dipersembahkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Manusia pada zaman Jahiliah seperti tak puas jika tidak berkorban dengan darah dagingnya sendiri. Namun, selayak agama yang beradab di kemudian hari, korban-korban berbentuk manusia dihapus oleh Syariat Muhammad. Dan, levelnya pun ditingkatkan lebih tinggi menjadi qurban. Berkorban demi untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan harga yang lebih murah seperti hewan, buah-buahan, dan sayur-sayuran dengan tanpa mengurangi kualitas pengorbanan.

Sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, pertumpahan darah senantiasa menjadi rutinitas. Mulai dari revolusi fisik menentang Belanda, disusul kemudian pemberontakan-pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta, PKI/Madiun, G30S/1965, peristiwa Ninja dan Dukun Santet di Jawa Timur, dan lain-lain. Semua memakan korban darah manusia.

Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, 1940-2009) coba melerai dengan cara Syariat Muhammad. Walau darah mendidih hendak dilengserkan dari kursi presiden, namun bagi Gus Dur tidak ada setetes darah manusia pun yang boleh mengalir. Pendekatan qurban jauh lebih elegan sebagai suku-bangsa yang bermartabat dan beradab.

Manusia jauh lebih mudah dipersatukan dengan budaya daripada agama dan politik. Di banyak negara, sering terjadi perpecahan karena perbedaan pandangan dan paham agama. Begitu pula, perbedaan pandangan dan paham ideologi politik bisa menciptakan perpecahan, pertumpahan dan pengorbanan darah manusia.

Suku-bangsa Nusantara dibangun dari satu kata “budaya” yang mengandung makna berbagai aspek kehidupan manusia, baik teknologi, ilmu pengetahuan, adat istiadat, maupun gaya hidup dan arsitektur bangunan. Budaya sendiri diambil dari kata “Buddha” atau ‘Budh” yang berarti telah mengetahui atau telah menyadari sepenuhnya. Di dalam Islam, budaya sebenarnya diambil dari simbol huruf Hijaiyah Ba’ (ب).

Di dalam agama Buddha ada empat capaian seseorang dikatakan Buddha, apabila: menemukan kebenaran (dharma), baik hakiki maupun majazi, berupa “perkara” yang sebenarnya, “berpikir” sebenarnya, “kesulitan” yang sebenarnya, dan “jalan” yang sebenarnya.

Dengan demikian, budaya tersebut bila dikomparasikan dengan pengertian istilah-istilah Arab dapat dibedakan menjadi tsaqafah (ilmu pengetahuan), tamaddun (tataaturan, hukum), hadlarah (gaya hidup, arsitektur), serta adab (susastra). Kota Yatsrib menurut Buya Said (KH Said Aqil Siroj) diambil dari nama pendirinya “Yatsrib”, lengkapnya Yatsrib bin Ubail bin Iwadh bin Aram bin Sam bin Nuh as. Kemudian, dijadikan oleh Rasulullah saw menjadi tamaddun atau madinah, tempat didirikannya tataaturan dan hukum-hukum sosial. Sebuah kota dikatakan berbudaya apabila tataaturannya dan hukumnya berjalan baik, begitu pula sebuah negara dan bangsa dalam skala lebih besar. Umat Islam Indonesia dapat menjadi a single majority in culture apabila bisa memenuhi empat arti tersebut: tsaqafah, tamaddun, hadlarah, dan adab.

Cirebon, 29 Mei 2022.

Previous Post

Buya Said: Pandangan Geopolitik Islam Nusantara

SELANJUTNYA

Anggun C Sasmi: Masa Kejayaan Industri Musik dalam Negeri

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

SELANJUTNYA

Anggun C Sasmi: Masa Kejayaan Industri Musik dalam Negeri

Buya Syafi'i Ma'arif Banjir Ucapan Belasungkawa dari Warga NU

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In