Menjadi santri adalah pengalaman tersendiri. Tentu, santri di sini dalam kapasitas definitif yang akhir akhir ini menjadi salah satu identitas suatu kelompok masyarakat. Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, 1940-2009) menyebutnya sebagai “sub kultur”, bagian dari kultur besar masyarakat Indonesia. Pengertian kelompok ini memang terkesan “Jawa sentris” karena pada padanan kata serupa juga terdapat dalam kultur masyarakat Melayu dan Sunda seperti kata “Siak” yang sudah merakyat dan merata hidup dalam kultur besar. Santri dalam pengertian terakhir lebih ditarik garis benang merahnya oleh Clifford Geerzt (1926-2006) untuk polarisasi masyarakat Jawa di Mojokuto, Pare, Kediri. Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan adalah tema besar Hari Santri Nasional yang telah ditetapkan oleh Pemerintah pada setiap tanggal 22 Oktober. (Redaksi).
26 Tahun yang lalu, tepatnya Rabu 06 Juli 1997, saya mulai mesantren di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang, untuk menjalani hidup sebagai seorang santri.
Dalam administrasi pendaftaran, saya di tempatkan di Asrama Munzalan Mubaroka, sebuah asrama yang namanya diambil dari potongan Al Quran Surat Al Mukminun ayat 29. Munzalan Mubaroka sendiri mengandung arti tempat yang diberkahi.
Konsep asrama di pesantren ini meniadakan unsur kedaerahan, tingkatan kelas, atau unsur pembeda yang lain, semua melebur menjadi satu penduduk asrama yang campur baur. Berdaya menjaga martabat kemanusiaan ketika menemukan perbedaan perbedaan latar belakang.
Berasal dari sebuah desa ujung di pesisir timur kota Sidoarjo, saya bermain hanya sebatas teman satu desa. Tentu, fase fase awal menjadi santri begitu mengesankan bagi saya, karena mempunyai teman teman baru yang berasal dari hampir semua daerah di Indonesia.
Bahasa yang aneh dan unik terdengar setiap hari. Ada yang seperti orang marah. Ada yang halus tutur katanya. Ada pula yang lantang. Bahkan, ada pula bahasa yang penyampaiannya cepat plus sulit dipahami.
Kebiasaan kebiasaan unik yang sering mereka lakukan di rumah juga masih mereka bawa ke pesantren. Cerita cerita apapun tentang segala peristiwa atau keunggulan di daerah mereka, juga mereka sampaikan dengan sangat berkesan dan jenaka. Hal hal semacam ini kemudian terasa bahwa seakan akan saya sudah “mbolang” ke seluruh wilayah Indonesia.
Bersama mereka semua, saya bergaul dalam menyiapkan setoran hafalan, menyiapkan materi baca kitab, berorganisasi, berolahraga, jalan jalan, mencari hiburan, hingga makan dan tidur bersama sama. Bahkan, kehabisan uang saku pun secara bersama sama pula.
Ketika sudah keluar dari pesantren barulah saya sadar, bahwa terdapat pelajaran yang sangat berharga dari pesantren, yakni belajar berinteraksi dengan kawan kawan se-tanah air yang berbeda karakter, kebiasaan, bahasa, adat istiadat, sifat, dan lain sebagainya. Dan dari hasil interaksi tersebut kemudian, muncul sikap menghargai arti sebuah perbedaan.
Pengalaman di atas membuat saya menyimpulkan, bahwa, jika ingin belajar menghargai seseorang, belajar mengubur ego, belajar kebinnekaan, belajar arti perbedaan, maka, pesantrenlah tempatnya.
“Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan”
SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL
22 OKTOBER 2022















