• Latest
  • Trending

Kiai Syakir dalam Pandangan Tuan Guru Dzulmanni Al Banjari

5 September 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Kiai Syakir dalam Pandangan Tuan Guru Dzulmanni Al Banjari

Jatim Net26 Jurnalis Jatim Net26
5 September 2022
in Tokoh
Reading Time: 3 mins read
A A

KHA Syakir Ridwan, biasa dipanggil Pak Syakir, adalah salah seorang guru teladan kami parasantri di Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Guru guru kami yang lain di antaranya KHA Musta’in Syafi’ie (biasa dipanggil Pak Tain), Kiai Syuhada Syarkun (biasa dipanggil Pak Hada), Kiai Abdullah Afif (biasa dipanggil Cak Afif), Kiai Mukhlis, Kiai Syihabuddin Raso, Kiai Fauzan Kamal, dan masih banyak kiai dan guru yang semuanya di mata saya hebat hebat, alim alim, dan sudah pasti mereka hafal Al Quran sempurna (mutqin) 30 juz. Guru khusus saya, Kiai Mabrur Syaibani, atau biasa dipanggil Cak Mabrur, tentu patut mendapat tempat di halaman ini karena beliau adalah guru pembimbing setoran hafalan saya atau biasa disebut badal. Kata badal artinya asisten yang berperan penting membantu tugas mulia pendiri dan pengasuh MQ Tebuireng yang sudah wafat, Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar Rahimahullah. Bagi saya, beliau adalah seorang waliyullah (kekasih Allah). Kini, penerus perjuangan dan jihad bil Quran di MQ Tebuireng dilanjutkan oleh putera beliau, KH Abdul Hadi Yusuf (biasa dipanggil Gus Didi).

Di lembar tulisan singkat dan sederhana ini, saya tidak bermaksud menulis memori saya tentang mereka semua. Karena, jumlah yang banyak serta perlu bersikap hati hati dalam menuliskannya.

ArtikelLainnya

Ibunyai Hj Farida binti KHM Yusuf Masyhar

6 Agustus 2022
0

Nyai Hj Ruqoyyah: Sosok di Balik Kokohnya Organisasi Pesantren

30 Juli 2022
0

Membangun Peradaban Al Quran di Pulau Dewata

28 Juli 2022
0
Load More

Saya berfokus terlebih dahulu pada satu nama yang sama penting dan harumnya dalam ingatan saya, Kiai Syakir Ridwan atau Pak Syakir yang sudah saya sebutkan di atas. Semoga suatu saat bisa menulis tentang guru guru kami yang lain sebagai wujud kecintaan seorang murid kepada guru. Semoga juga menjadi ibadah dan amal jariyah yang bernilai mulia di sisi Allah Subhanah wa Taala.

Kiai Syakir Ridwan dari segi nama saja sudah menunjukkan siapa beliau. Syakir artinya orang yang selalu bersyukur. Sedang Ridwan artinya orang yang mendapat Ridha dari Allah. Dan, dalam kenyataannya, beliau memang seorang guru yang alim dan tawadhu alias rendah hati. Beliau juga hidup sederhana dan penuh syukur kepada Allah. Beliau tidak neka neka, dan hidup sesuai syariat Allah Taala.

Di bidang Al Quran, tentu kapasitas beliau tidak diragukan lagi. Beliau hamil Al Quran, sempurna 30 juz, dan bukan hafal juz 30 saja. Di samping menjadi badal yang sehari hari membimbing parasantri yang sedang menghafal Al Quran, beliau juga mengajar parasantri ilmu ilmu agama, khususnya ilmu ilmu Al Quran secara klasikal. Tampak sekali bekas sujud jika kita pandang wajah beliau. Teduh. Itulah raut wajah beliau sebagai wujud pengaruh dari keikhlasan mengajarkan ilmu ilmu agama.

Bila bertemu beliau, kami biasa salaman dan cium tangan. Bagi kami parasantri, cium tangan kiai, guru, atau ustadz itu memang setengah wajib hukumnya sebagai sikap hormat terhadap orang yang lebih alim. Bahkan, terhadap orangtua pun, Islam mengajarkan untuk selalu hormat. Ini bukanlah kultus individu sebagaimana yang dikesankan oleh kalangan tertentu. Ini wujud pengamalan salah satu ayat Al Quran: “wakhfidh janahaka limanittaba’aka minal mu’miniin; rendahkan sayapmu (tawadhuklah) wahai Muhammad, kepada pengikutmu dari golongan kaum beriman!” Logikanya, jika Nabi Muhammad saw selaku nabi yang termulia saja disuruh tawadhu, apalagi kita umat beliau.

Kembali kepada Pak Syakir, beliau orang yang tidak terlalu suka bicara. Bukan karena sombong, tapi lebih karena bersikap hati hati dalam bicara. Bukankah lidah tidak bertulang? Bukankah lidah lebih tajam dari pedang? Dengan lidah bisa membuat orang lain bahagia, tapi dengan lidah juga kita bisa membuat hati orang lain terluka yang susah untuk disembuhkan. Dalam hemat saya, Pak Syakir memang sengaja hemat bicara. Ini memang pilihan yang tepat sesuai karakter beliau yang hatinya lembut dan tawadhu serta tunduk patuh kepada Allah Taala dan Baginda Rasulullah saw.

Semua watak atau karakter beliau yang baik dan mulia itu sudah pasti buah dari proses internalisasi nilai nilai Al Quran yang beliau hafalkan. Beliau kaji dan amalkan. Didikan orangtua dan guru guru beliau sudah pasti ikut menentukan. Bahkan, beliau juga pernah nenimba ilmu sampai ke Tanah Arab demi memenuhi dahaga sebagai salah seorang alim yang haus ilmu.

Bagi saya pribadi, tak ada kata yang lebih tepat selain kata permohonan maaf sekaligus rasa terima kasih yang dalam karena beliau telah berkenan mengajar dan membimbing kami sejak 1992 sampai 1998 yang lalu dengan keteladan dan kesabaran yang pantas untuk ditiru dan digugu. Saya dan teman teman yang lain tentu merasa beruntung punya guru seperti beliau dan guru guru yang lain juga. Semoga amal jariyah mereka dalam membimbing dan mengajarkan ilmu menjadi lentera yang menerangi alam kubur mereka kelak jika tiba waktunya menghadap Sang Maha Segala. Semoga juga segala bentuk ibadah yang mereka kerjakan dengan ikhlas menjadi asbab mendapat Rahmat dan Ridha dari Allah Subhanahu wa Taala, Amin.

Al Faqir wa Al Jahil, Dzulmanni Al Banjari

Tags: MQ Tebuireng
Previous Post

Menikmati Sega Pincuk Pecel Madiun

SELANJUTNYA

Perdikan, Kerangka Budaya Kaum Santri

Jatim Net26

Jatim Net26

SELANJUTNYA

Perdikan, Kerangka Budaya Kaum Santri

Merubah Watak Berorganisasi Kita

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In