Secara alamiah, mengapa Islam menjadi agama bagi mayoritas manusia di Nusantara? Karena, kultur kemelayuan sama dengan kultur Islam. Mengapa Melayu? Setidaknya, perlu kajian sosio-kultur di sini. Meskipun, baru sebatas spekulasi.
Suku-bangsa Melayu Penyebar Budaya
Mengapa Islam menjadi agama bagi mayoritas manusia di Nusantara? Pertama, Islam tidak mengajarkan strata-kelas berupa kasta. Orang yang sudah mencapai “wushul”, bertemu sendiri secara langsung kepada Allah Taala, dia tidak memerlukan lagi perantara guru. Karena, guru sesungguhnya adalah Allah Taala sendiri. Tapi, sebelum ia wushul, maka ia wajib berguru. Jika tidak ingin tersesat.
Kedua, suku-bangsa Melayu memiliki landasan terbuka. Tanpa tedheng aling aling. Juga, tidak mengenal strata-kelas-kasta sebagaimana Islam mengajarakan demikian. Pada masa Rasulullah saw hingga Abad Pertengahan, sikap terbuka ini dimiliki oleh suku-bangsa Arab sehingga keilmuan berkembang dengan pesat.
Teori Melayu ini sulit terkatakan, karena harus dilakukan riset mendalam secara genetik. Namun, dengan pendekatan pendekatan susastra setidaknya akan ada jawaban. Jika Manusia Melayu terusir dan datang dari Yunan (Proto-Melayu, Melayu Purba) dan Dongson (Deutro-Melayu, Melayu Muda) ke Nusantara. Pada hakikatnya, Manusia Melayu Nusantara sebelum kedatangan budaya Hindu memiliki tipikal yang bebas dan terbuka. Tidak percaya? Lihat strata sosial di luar Jawa yang tidak memiliki ikatan strata-kelas-kasta! Tanpa unggah ungguh seperti Jawa setelah mengenal budaya Hindu. Mengapa budaya Hindu? Karena, tidak semua bahasa di Jawa memiliki strata-kelas-kasta. Dari segi bahasa pula, suku-suku di luar Jawa cair, tidak bertingkat tingkat dalam berbahasa. Demikian pula dengan ajaran Islam yang tidak mengenal strata-kelas-kasta. Semua di hadapan Allah Taala adalah sama. Dengan demikian, perlu dipertanyakan jika Manusia Melayu tidak memeluk agama Islam.
Konflik Horisontal Manusia Jawa
Memecah konfigurasi rumus rumus Kemelayuan dapat dilihat dari pemahaman Manusia Nusantara tentang konsep Ketuhanan. Kepercayaan Manusia Nusantara yang rendah terhadap sesuatu yang dekat tidak berarti mereka telah menuhankan yang dekat itu. Suku-bangsa Melayu memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Orang Melayu tidak menyembah nenek moyang sebagaimana rumusan rumusan dalam kajian sejarah di Indonesia yang mementingkan sejarah agama daripada sejarah manusia. Hal ini dapat dilihat dari segi sejarah kedatangan Manusia Nusantara dan budayanya dari Hindu atau bahkan daratan China. Kalaupun kepercayaan itu ada selalu dihubunghubungkan dengan Hindu, termasuk aksara dan bahasa. Tentu, Hindu di sini diartikan sebagai budaya yang datang dari Tanah Hindustan, bukan agama tertentu.
Mengapa Islam menjadi agama bagi mayoritas manusia di Nusantara? Karena, mereka tidak menyembah dewa dewa yang mengajarkan strata-kelas-kasta. Mereka menyembah Sang Hyang yang tak berupa dan berwujud. Kalau pun Hyang itu merupa dan mewujud ke dalam sosok dan personifikasi, maka akan ditambah dengan awal Pu, Dang, Ma, dan lain lain. Sebagaimana Pu-Hyang, Dang-Hyang, Ma-Hyang, dan seterusnya. Konfigurasi ini sama persis ketika menyebut nama Allah Taala tanpa embel embel. Tapi, ketika sudah merupa dan mewujud ke dalam sosok atau person-ifikasi maka akan ada tambahan awalan ‘Abd Allah, Khalaf Allah, Hizb Allah, dan seterusnya. Konfigurasi rumus rumus ini dapat membedakan antara Hyang atau Allah yang tertinggi dengan sosok dan personifikasi yang ada dan wujud di muka bumi.
Pada aspek antropologi, Manusia Melayu menaruh dan mengubur nenek moyang mereka pada tempat yang tinggi, gunung gunung. Dalam kepercayaan ini, semakin tinggi jasad dimakamkan semakin tinggi dan dekat pula derajatnya di dalam ingatan masyarakat setelahnya. Manusia Melayu menempatkan posisi nenek moyang mereka adalah yang terdekat dengan Hyang atau Allah yang menciptakan langit dan bumi. Lalu, apa bedanya ketika ayat perintah memindahkan arah kiblat dari Masjid Al Aqsa ke Masjid Al Haram. Al Quran dengan tegas menyebutkan alasannya: Mekah adalah rumah nenek moyang umat Islam (bait al ‘atiq).
Apakah mempercayai tempat tempat tertentu, binatang binatang tertentu, dan pohon pohon tertentu sebagai tempat persemayaman ruh leluhur adalah budaya Manusia Nusantara dengan Kemelayuannya? Tumpang tindih kepercayaan dan budaya antara suku-bangsa Melayu dan budaya Hindu menjadi ambigu. Tidak bisa ditentukan. Karena, harus diteliti secara detil lagi.
Kasus pada masyarakat Suku Anak Dalom di Kabupaten Musirawas, mereka masih menjalani tradisi “melangun”. Pergi dengan kesedihan. Artinya, setelah mereka membungkus anggota keluarga yang mati, kemudian di taruh di atas pohon yang tinggi dengan ikatan, lalu pergi meninggalkan jasad tersebut dengan kesedihan. Hal ini menunjukkan: Suku Anak Dalom tidak menyembah ruh leluhur sebagaimana anggapan selama ini. Apalagi disebut Animisme atau Dinamisme. Mereka mempercayai adanya Tuhan (Tohaan) yang bakal menerima jasad dan ruh si mayat tersebut. Meskipun, masih dalam tradisi yang sangat sederhana agar tidak merepotkan keluarga yang ditinggal mati.
Justru, penyembahan materi muncul ketika budaya Hindu datang. Ketika terjadi personifikasi, pendewaan, pematungan, atau pemberhalaan. Resistensi budaya tumbuh banal di Jawa. Rupa nenek moyang diwujudkan ke dalam bentuk patung patung atau arca arca sesembahan. Dan, konflik ini terdapat di Jawa sebagaimana suku-bangsa Arab membuat arca arca Latta, Uzza, dan Manath. Pun, Syamiri yang membuat arca sapi setelah ditinggal oleh Musa as. Dengan kata lain, hal ini merupakan persoalan budaya dan sejarah manusia. Bukan sejarah agama. Maka, tidak heran, jika kemudian Manusia Nusantara yang melestarikan budaya Hindu menemukan sebutan Sang Hyang Widhi atau Sang Hyang Adi Buddha. Kepercayaan yang tidak terdapat di tanah asal budaya tersebut, Hindu-stan. Wallahul Musta’an.















