• Latest
  • Trending
Maqbarah Mursyid thariqah Naqsyabandi-Khalidiyah, Syekh Abdul Wahab Rokan di Stabat Sumatera Utara

Ziarah sebagai Wisata Ruhani

3 September 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Ziarah sebagai Wisata Ruhani

Muhammad Sakdillah Jurnalis Muhammad Sakdillah
3 September 2022
in Pendidikan dan Wisata
Reading Time: 2 mins read
A A
Maqbarah Mursyid thariqah Naqsyabandi-Khalidiyah, Syekh Abdul Wahab Rokan di Stabat Sumatera Utara

Maqbarah Mursyid thariqah Naqsyabandi-Khalidiyah, Syekh Abdul Wahab Rokan di Stabat Sumatera Utara

Wisata ziarah bukan saja sudah menjadi  tren, melainkan kebutuhan.

Kehidupan modernitas dengan mengedepankan serba materi telah membenturkan nalar manusia kepada kenyamanan-kenyamanan ruhani. Jika teori-teori ilmu pengetahuan yang dilahirkan di Barat telah berhenti pada eksplorasi materialistik, maka pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh Nusantara adalah spiritualistik.

ArtikelLainnya

MTs Madrasatul Quran Tebuireng Fasilitasi FASTA Gratis

11 Oktober 2022
0

Pencaksilat di Pesantren sebagai Sumber Kekerasan?

16 September 2022
0

Pentingnya Menghafal dalam Belajar

13 September 2022
0

Reaktualisasi Pencaksilat di Indonesia (Bagian Satu)

8 September 2022
0
Load More

Namun, dekadensi yang ditimbulkan oleh modernitas dan materialistik justeru terus diagung-agungkan, seolah puncak kebahagiaan dan kesuksesan adalah memiliki materi yang banyak. Masyarakat diberikan impian-impian kesuksesan sebatas materi.

Ziarah (pilgrim) sebagai salah satu cara meningkatkan spiritualitas sudah dilakukan sejak syariat haji ditetapkan.

Dengan ritual-ritual yang panjang—kebutuhan fisik yang kuat—menuntut pengenalan dan pemahaman sejarah yang kuat. Setiap tempat ketika melaksanakan haji tersebut memiliki nilai sejarah.

Sementara waktu, ziarah masih dipandang sebagai ibadah yang tidak penting. Meskipun secara sarih sudah dikatakan oleh hadis Rasulullah saw tentang kebolehannya. Ziarah masih dipandang sebagai kegiatan bidah, karena dikhawatirkan menimbulkan kekhurafatan dan ketahayulan. Demikian, esensi haji sebagai ibadah ziarah tidak pernah tersentuh sama sekali. Haji hanya berhenti pada kegiatan-kegiatan pemunuhan syarat dan rukun. Membayar dam bila melanggar.

Secara syar’i, haji memang menjadi ibadah ziarah yang diakui. Problem berikut adalah ziarah kepada makam para wali dan orang-orang yang dihormati. Kegiatan sadran dan nyekar yang dilaksanakan hampir setiap tahun menjelang bulan suci Ramadan masih belum bisa diterima secara utuh. Stigma yang diberikan sebagai “penyembah kuburan” menyebabkan pandangan singkat menjadi negatif pada kegiatan ini.

Akhirnya, keuntungan-keuntungan yang diambil dari ziarah sendiri masih dipertanyakan. Sejauh ini, keutamaan-keutamaan ziarah sering dikatakan sebagai ngalap barakah. Mengharap makam-makam yang diziarahi dapat memberikan sambungan ruhani kepada Yang Maha Kuasa. Hal ini tidak salah sama sekali.

Ziarah yang dipandang sebagai ngalap barakah tersebut dapat dijadikan sebagai sambungan energi positif yang dipancarkan dari hasil-hasil washilah tersebut. Washilah sebagai “perantara” menjadi media yang dapat tersambung dengan realitas yang lebih tinggi, Allah Ta’ala. Sebagaimana puncak spiritualitas tertinggi adalah realitas, bukan dalam arti berhenti pada realitas materi, melainkan realitas tertinggi tersebut adalah Zat Adikodrati sebagai hyper reality.

Rasionalitas dan Kedangkalan Berpikir

Manusia modern menjadi rasional itu sudah tuntutan di belahan dunia Barat. Ketika semua ide ide immateri dapat dimaterikan. Pada era modern ini, puncak kebahagiaan ketika manusia tidak lagi berbicara tentang kelas dan strata sosial.

Fasilitas serba mudah didapat. Dapat dibayangkan, jika ide-ide yang termaterikan tersebut kini sudah masuk ke dalam semua aspek dan lini kehidupan. Dari mulai bangun tidur sampai waktu tidur lagi. Jika dulu, seorang kiai mengharamkan menonton ledhek dan sinden, namun kini, seorang Madonna bisa menembus ruang ruang batas kehidupan pribadi.

Rasionalitas adalah puncak kemakmuran dan kebahagiaan yang dicita-citakan oleh Barat. Di satu sisi, hal ini memang memberi kemudahan bagi manusia modern. Ketika ilmu pengetahuan telah menjadi pembebas penderitaan manusia. Namun di sisi yang lain, tak luput juga, bila hal ini telah memunculkan penderitaan baru. Kemudahan bukan berarti manusia modern lepas dari penderitaan.

Manusia modern menjadi malas berkreasi, malas bertirakat, malas berusaha, dan kian terjebak ke dalam kehidupan kehidupan serba mudah. Walhasil, cara dan pola berpikir pun menjadi dangkal. Karena, semua sudah tersedia. Dengan keserbamudahan ini, dan dengan upaya kerja keras, karena semua sudah terjamin, baik oleh negara atau jaminan sosial, manusia sedang menuju ke jurang kehancurannya sendiri. Kehidupan pun menjadi kering ruhani.

Ziarah menjadi tema penting dalam kehidupan manusia. Ziarah tidak saja coba menghubungkan energi positif dari Yang Maha, melainkan juga dapat mengembalikan memori memori yang sudah rusak akibat problem problem modernitas. Kembali menengok masa lalu dan mempelajarinya lagi. Mengulang sejarah yang cenderung mengalami daur ulang. Manusia pun butuh tempat kembali.

Tags: RasionalitasZiarah
Previous Post

Catatan Ulang: Perihal Ketoprak Rainha De Japora

SELANJUTNYA

Sekilas “Memori Hindia Belanda”

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

SELANJUTNYA

Sekilas "Memori Hindia Belanda"

Menikmati Sega Pincuk Pecel Madiun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In