Wisata ziarah bukan saja sudah menjadi tren, melainkan kebutuhan.
Kehidupan modernitas dengan mengedepankan serba materi telah membenturkan nalar manusia kepada kenyamanan-kenyamanan ruhani. Jika teori-teori ilmu pengetahuan yang dilahirkan di Barat telah berhenti pada eksplorasi materialistik, maka pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh Nusantara adalah spiritualistik.
Namun, dekadensi yang ditimbulkan oleh modernitas dan materialistik justeru terus diagung-agungkan, seolah puncak kebahagiaan dan kesuksesan adalah memiliki materi yang banyak. Masyarakat diberikan impian-impian kesuksesan sebatas materi.
Ziarah (pilgrim) sebagai salah satu cara meningkatkan spiritualitas sudah dilakukan sejak syariat haji ditetapkan.
Dengan ritual-ritual yang panjang—kebutuhan fisik yang kuat—menuntut pengenalan dan pemahaman sejarah yang kuat. Setiap tempat ketika melaksanakan haji tersebut memiliki nilai sejarah.
Sementara waktu, ziarah masih dipandang sebagai ibadah yang tidak penting. Meskipun secara sarih sudah dikatakan oleh hadis Rasulullah saw tentang kebolehannya. Ziarah masih dipandang sebagai kegiatan bidah, karena dikhawatirkan menimbulkan kekhurafatan dan ketahayulan. Demikian, esensi haji sebagai ibadah ziarah tidak pernah tersentuh sama sekali. Haji hanya berhenti pada kegiatan-kegiatan pemunuhan syarat dan rukun. Membayar dam bila melanggar.
Secara syar’i, haji memang menjadi ibadah ziarah yang diakui. Problem berikut adalah ziarah kepada makam para wali dan orang-orang yang dihormati. Kegiatan sadran dan nyekar yang dilaksanakan hampir setiap tahun menjelang bulan suci Ramadan masih belum bisa diterima secara utuh. Stigma yang diberikan sebagai “penyembah kuburan” menyebabkan pandangan singkat menjadi negatif pada kegiatan ini.
Akhirnya, keuntungan-keuntungan yang diambil dari ziarah sendiri masih dipertanyakan. Sejauh ini, keutamaan-keutamaan ziarah sering dikatakan sebagai ngalap barakah. Mengharap makam-makam yang diziarahi dapat memberikan sambungan ruhani kepada Yang Maha Kuasa. Hal ini tidak salah sama sekali.
Ziarah yang dipandang sebagai ngalap barakah tersebut dapat dijadikan sebagai sambungan energi positif yang dipancarkan dari hasil-hasil washilah tersebut. Washilah sebagai “perantara” menjadi media yang dapat tersambung dengan realitas yang lebih tinggi, Allah Ta’ala. Sebagaimana puncak spiritualitas tertinggi adalah realitas, bukan dalam arti berhenti pada realitas materi, melainkan realitas tertinggi tersebut adalah Zat Adikodrati sebagai hyper reality.
Rasionalitas dan Kedangkalan Berpikir
Manusia modern menjadi rasional itu sudah tuntutan di belahan dunia Barat. Ketika semua ide ide immateri dapat dimaterikan. Pada era modern ini, puncak kebahagiaan ketika manusia tidak lagi berbicara tentang kelas dan strata sosial.
Fasilitas serba mudah didapat. Dapat dibayangkan, jika ide-ide yang termaterikan tersebut kini sudah masuk ke dalam semua aspek dan lini kehidupan. Dari mulai bangun tidur sampai waktu tidur lagi. Jika dulu, seorang kiai mengharamkan menonton ledhek dan sinden, namun kini, seorang Madonna bisa menembus ruang ruang batas kehidupan pribadi.
Rasionalitas adalah puncak kemakmuran dan kebahagiaan yang dicita-citakan oleh Barat. Di satu sisi, hal ini memang memberi kemudahan bagi manusia modern. Ketika ilmu pengetahuan telah menjadi pembebas penderitaan manusia. Namun di sisi yang lain, tak luput juga, bila hal ini telah memunculkan penderitaan baru. Kemudahan bukan berarti manusia modern lepas dari penderitaan.
Manusia modern menjadi malas berkreasi, malas bertirakat, malas berusaha, dan kian terjebak ke dalam kehidupan kehidupan serba mudah. Walhasil, cara dan pola berpikir pun menjadi dangkal. Karena, semua sudah tersedia. Dengan keserbamudahan ini, dan dengan upaya kerja keras, karena semua sudah terjamin, baik oleh negara atau jaminan sosial, manusia sedang menuju ke jurang kehancurannya sendiri. Kehidupan pun menjadi kering ruhani.
Ziarah menjadi tema penting dalam kehidupan manusia. Ziarah tidak saja coba menghubungkan energi positif dari Yang Maha, melainkan juga dapat mengembalikan memori memori yang sudah rusak akibat problem problem modernitas. Kembali menengok masa lalu dan mempelajarinya lagi. Mengulang sejarah yang cenderung mengalami daur ulang. Manusia pun butuh tempat kembali.


















