Ada seorang teman baik yang menaruh simpatik, kalau menulis terus tentang pesantren (tidak umum) nanti akan ditinggalkan pembaca. Perhatian teman tersebut tidak sepenuhnya salah karena realitasnya demikian: pesantren masih dianggap seperti yang dulu.
Pandangan yang Salah
Tidak diberinya kesempatakan kalangan pesantren untuk mengekspresikan dirinya sendiri hanya dapat dirasakan oleh kalangan kalangan entrepreneurship saja. Kalaupun terbiasa pada pendidikan birokratis apalagi militer, tentu tidak mudah untuk memahami pesantren.
Greg Barton di dalam disertasinya memasukkan M. Nurcholish Madjid (Cak Nur) sebagai sosok tokoh “Neo-Modernisme” di Indonesia. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena Cak Nur merupakan salah satu murid Fazlur Rahman di Amerika. Namun, dari sudut apresiasi, pandangan pandangan Cak Nur bisa disebut pula sebagai kritik terhadap modernisme itu sendiri. Sama seperti pandangan Neo-Tradisionalisme yang muncul hampir berbarengan dengannya, memiliki apresiasi yang tinggi terhadap tradisi, sekaligus kritik terhadapnya. Mau dibuktikan? Coba tanya saja sendiri kepada murid murid Cak Nur atau pengusung Neo-Tradisionalisme tentang kelemahan kelemahan kemodernan dan ketradisionalan.
Dalam problem problem sekolah, menurut Cak Nur, justru modernisme yang diusung oleh oleh Turki dan Mesir terus mengalami “modernity complex”. Ketika madrasah madrasah, baik di Turki maupun di Mesir, dihabisi, problem problem identitas sebenarnya sedang terjadi akibat keterpukauan terhadap gelombang Renaisanse yang terjadi di Eropa. Bukan menoleh kepada kemampuan diri, namun modernitas yang terjadi di Turki maupun di Mesir adalah menjadikan dua negara tersebut untuk meniru Barat, terutama Prancis. Padahal, jika dilihat dari aspek budaya, kemajuan suatu peradaban hanya dapat diraih dengan melakukan “perkawinan” semisal asimilasi atau akulturasi, bukan meniru. Begitu pula, catatan khusus terhadap Sutan Takdir Alisyahbana (STA) di Indonesia yang cukup mewarnai pemikiran pemikiran budaya “anak anak sekolahan”. STA beranggapan, untuk maju suku-bangsa Indonesia harus meninggalkan (diri) tradisi, harus memodernkan diri dengan sekolah sekolah pada saat itu.
Dunia Usaha Pesantren
Daya tahan pesantren yang mampu hidup hingga sekarang sungguh mengherankan banyak kalangan, tidak saja dari kalangan Barat, bahkan kaum modernism Islam sendiri. Meskipun, melalui Timur Tengah terus menerus menyerang terhadap keberadaan atau eksistensi pesantren melalui program program Wahabisme-Salafinya.
Hal ini dipandang wajar, karena modernisme di Indonesia berjalan setengah setengah. Tidak seperti Turki atau Mesir. Di Turki maupun di Mesir, menurut catatan Cak Nur, modernisme bisa dijalani secara total meskipun hanya pada tataran birokrasi dan militer saja. Itupun tidak lebih dikatakan konsumtif bila melihat jual beli senjata yang marak di Timur Tengah.
Aspek budaya memang ditinggalkan sejalan modernisme di Timur Tengah. Budaya sendiri ditindih oleh modernisme dalam meningkatkan pembangunan ekonomi dan basis basis militer, maka, yang terjadi adalah konflik dan perang.
Sementara di Indonesia, pesantren masih bisa bertahan karena memang menjaga etos yang diawali dari cara sholat berjamaah. Untuk meningkatkan sholat berjamaah, para kiai di pesantren pesantren tidak serta merta dilaksanakan secara massif apalagi melalui program “Subuh Berjamaah”. Etos berjamaah yang dibangun oleh sang kiai biasa diawali sendiri, kemudian keluarga dan masyarakat. Begitu pula, mendirikan pesantren tidak memerlukan biaya yang besar, cukup membangun etos dan contoh sehingga yang dibangun adalah daya tahan. Daya tahan ini yang masih jauh dari perhatian dari kalangan pemangku kebijakan.
















