Simbol Kecintaan kepada Ilmu
Perpustakaan Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng melengkapi keberadaan perpustakaan besar di kawasan Tebuireng, seperti perpustakaan Universitas Hasyim Asy’ari dan perpustakaan A. Wahid Hasyim. terutama dalam bidang koleksi kitab kitab induk dari berbagai disiplin ilmu keislaman.
Kala itu, keberadaan Perpustakaan MQ Tebuireng menjadi surga bagi para santri dan mahasiswa pencari referensi kitab kitab induk. Di dalam perpustakaan ini, terdapat berbagai macam kitab-kitab tafsir yang begitu lengkap dari yang klasik sampai kontemporer sebut saja misal Ibnu Katsir, Al Thabari, Al Kasyaf, Al Maraghi, Ruhul Ma’ani, fii Dzilal Al Quran hingga Shofwat Al Tafasir.
Di bidang Hadis, kitab tujuh imam hadis terkemuka; Shahih Al Bukhari dan Muslim, Sunan Al Nasa’i, Ibnu Majah, Al Tirmizi, Abu Daud hingga Musnad Ahmad juga tersedia berikut kitab kitab syarahnya.
Pada bidang fiqh, kitab ushul dan qowaid juga sangat lengkap dari yang klasik hingga kontemporer seperti Fiqh Al Islam wa Adillatuhu karya Syekh Wahbah Al Zuhaili. Dan, masih banyak lagi yang tersedia koleksi beberapa kitab selain ketiga disiplin keilmuan di atas.
Kitab kitab tersebut sebagian besar merupakan wakaf dari Almaghfurlah Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar. Ini merupakan bukti: beliau sangat ingin agar santrinya benar benar dan bersungguh sungguh menjadi hamil Al Quran yang lafdhan wa ma’nan.
Perpustakaan MQ Tebuireng juga banyak mengoleksi buku buku keislaman berbahasa Indonesia, majalah, hingga surat kabar.
Berkunjung ke perpustakaan tersebut merupakan sarana hiburan bagi santri. Dengan membaca atau sekadar melihat lihat gambar di buku, ensiklopedi, koran, dan majalah adalah sarana rekreasi gratis, apalagi perpustakaan juga memutar berbagai jenis musik. Disebut hiburan, karena terlepas dari kesibukan kegiatan inti menghafal Al Quran dan murajaah, mengajak otak untuk bertamasya, menelusuri mutiara mutiara indah dari penuturan ulama ulama dan ilmuan ilmuan lintas zaman, terbang jauh menikmati indahnya cerita cerita kebijaksanaan kaum kaum terdahulu seakan akan hidup didalamnya. Syair syair pembius jiwa dan lain sebagainya.
Di era yang serba digital ini, fisik perpustakaan seperti Perpustakaan MQ Tebuireng lama kelamaan tergusur oleh perpustakaan digital, tetapi berkunjung ke perpustakaan dengan melihat deretan buku yang tertata rapi di rak rak buku ditambah dengan aroma kertas buku yang khas merupakan sebuah kesan yang tak tergantikan.
Semoga perpustakaan ini tetap eksis keberadaannya dan tetap membawa manfaat bagi para pecinta ilmu disekitarnya.
















