Mereka Hadir Sebagai Pelengkap
Teman bilang, kalau ingin melihat realitas, lihatlah perkampungan lokalisasi. Di sana, kemiskinan akan tergambar jelas. Mereka tidak bisa digambarkan dengan imajinasi imajinasi, apalagi tentang akhirat yang abstrak! Bagi mereka, mungkin, hari akhir hanya ada pada imajinasi imajinasi agama. Untuk menakut nakuti saja agar orang orang tidak berbuat seperti itu. Mereka berpikir, yang dibutuhkan adalah mencukupi kebutuhan hidup sehari hari dengan tanpa gaji selayaknya pegawai tetap atau nontetap (magang). Mereka tidak memiliki gaji tetap itu. Mereka hanya berharap setiap hari “ada tamu” yang mampir dan memberi rezeki. Tamu tamu itu akan dilayani semampu mereka mengeluarkan uang, karena tamu tamu itu hidup dari penghasilan yang pas pasan pula sebagai buruh pabrik atau pekerja kasar lainnya. Mereka tidak membayangkan tamu tamu itu berasal dari kalangan berdasi. Berdasi pula, paling hanya sebatas gaya saja. Tidak membawa uang banyak. Bagi mereka, sehari dapat seorang tamu sudah sangat bersyukur, karena persaingan di antara mereka juga sangat ketat. Mereka harus berbagi di antara sesama mereka pada bab rezeki ini. Aneh bukan berbicara bab rezeki di arena lokalisasi?
Demikian, kata teman, kemiskinan bisa memacu mereka berbuat demikian turun temurun. Karena sudah menjadi profesi selayak profesi profesi lain sebagai tukang batu atau tukang kayu. Meskipun, mereka juga sadar akan risiko kekerasan karena persaingan. Atau, penyakit karena sering berganti pasangan. Sekira dari zaman ke zaman, prostitusi selalu ada. Seorang penulis buku tentang “Dolly”, sebuah kompleks lokalisasi terkenal sejak zaman Belanda yang sekarang sudah ditutup, menyebutkan: prostitusi adalah profesi tertua, setua usia sejarah manusia. demikian kira kira yang dituangkan oleh si penulis pada pembukaan bukunya. Dan, prostitusi selalu menjadi objek penting dalam studi studi sosial dan patologi patologinya.
Tapi, kemiskinan bukan satu satunya faktor munculnya prostitusi. Bisa lebih tepat, mungkin, bisa disebut sebagai hasrat dan naluri. Atau, karena ketegangan ketegangan masalah yang tak dapat dihindari. “Prostitusi” (dengan tanda petik) bagi Sebagian orang bisa dikatakan sebagai gaya hidup pada zaman sekarang, meskipun memiliki sifat dasarnya sebagai pelengkap. Pelengkap dalam menyelesaikan ketegangan ketegangan karena mendapat tekanan tekanan tugas yang berat. Dapat dibayangkan, seorang yang dihadapkan kepada tugas yang sangat berat karena belum masanya mengemban tugas berat tersebut menjadi histeria. Penyelesaian penyelesaian sesaat dibutuhkan untuk melampiaskan hasrat dan ketegangan ketegangan dan ancaman ancaman pada dirinya. Sehat tidaknya tergantung ia melampaui ketegangan ketegangan yang menghinggapinya.
Jika di sekitar stasiun stasiun keretaapi dan terminal terminal pangkalan truk banyak tumbuh prostitusi tidak resmi, tidak semata karena faktor kemiskinan, bisa jadi karena kebutuhan untuk melengkapi.
Kebutuhan untuk pelengkap ini bisa jadi karena kemiskinan sudah terlampaui. Artinya, kebutuhan kebutuhan mulai dari beli pulsa, makan sehari hari, tempat tinggal, belanja, dan keluarga sudah selesai. Mereka hadir di suatu tempat untuk melengkapi dalam menyelesaikan atau memberi penyaluran bagi beban Hasrat Hasrat yang tertekan. Dapat dibayangkan, betapa penat kerja di kota kota besar, mulai dari stres menghadapi kemacetan, perjalanan yang tidak aman, serta kebisingan kebisingan suara. Jika tidak dihadapi dengan ketenangan, maka akan cepat menjadi sebab sebab kehancuran. Mereka menganggap keruhanian sebagai jalan proses, padahal mereka membutuhkan jalan pintas untuk mempercepat kerja kerja mereka. Maka, kebutuhan kebutuhan pelengkap itu sudah menjadi keniscayaan. Mereka butuh untuk sebuah penguraian akibat stres. Cepat dan tuntas!
















