• Latest
  • Trending

Metropolitan Caruban Nagari dan Tuban Nagari

7 Oktober 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Metropolitan Caruban Nagari dan Tuban Nagari

Muhammad Sakdillah Jurnalis Muhammad Sakdillah
7 Oktober 2022
in Budaya dan Agama
Reading Time: 2 mins read
A A

Corak metropolitan Caruban Nagari dan Tuban Nagari memiliki banyak kesamaan sehingga dapat memunculkan asumsi Walisongo yang tak pernah sembilan.

Tradisi Buddha dan Syiwa

Ada anggitan yang serupa dengan kata “sanga” di berbagai daerah di Indonesia, secara filologi, memiliki konotasi yang hampir sama. Meskipun, tidak terdapat artefak artefak dan naskah naskah yang benar benar bisa dipertanggungjawabkan. Kata sanga tersebut bisa memiliki makna “persaudaraan”; istilah yang biasa digunakan di komunitas (majelis) Buddha, sanggam. Di Kalimantan, kata sanga tersebut menjadi nama daerah seperti Sanggau, Sanggam, dan Sangatta. Kata Sumenep sendiri sebagai salah satu daerah strategis pada masa Majapahit awal diambil dari kata “Songe-nep”. dan, di daerah Kabupaten Ungaran, terdapat kumpulan candi yang dinamakan “Gedong Songo”. Dengan demikian, kata “songo” dalam peristilahan Walisongo bukan merupakan jumlah bilangan sembilan yang tetap dan biasa dikenal dan ditulis oleh kalangan sejarawan, malainkan sebutan bagi sebuah komunitas (majelis) yang tersebar di Nusantara. Pada naskah Giri, sebutan Walisongo justru ditulis Walisana. Dari komunitas tersebut, kemudian melahirkan istilah pesantren yang lebih dekat kepada budaya cantrik dalam tradisi Syiwa dan Brahma. Kalangan yang rajin membaca kitab kitab Weda.

ArtikelLainnya

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
0

Mengapa Islam Menjadi Agama bagi Mayoritas Manusia di Nusantara?

19 November 2022
0

Tradisi Rebo Wekasan di Galesong, Takalar

23 September 2022
0

Tipologi Pesantren (Bagian Tiga)

27 Agustus 2022
0
Load More

Akulturasi Syiwa dan Buddha di Indonesia memang berjalan alot, meskipun jarang digambarkan dengan tegas. Terutama, dari kalangan kalangan yang dianggap menyimpang seperti Bhairawa. Aliran Bhairawa ini sering menjalankan ritual “Pancamakara” yang dikenal dengan sebutan “Moh Limo” (madat, maling, madon, main, dan minum). Ritual yang menghalalkan penggunaan narkotika, mencuri, bermain perempuan di luar pernikahan resmi, berjudi, dan minum minuman keras. Dalam cerita cerita yang berkembang sering disebutkan ritual seorang resi yang suka memakan daging manusia (kanibal). Ritual ini yang menurut kalangan penganut Syiwa, Brahma, Buddha sendiri sebagai penyimpangan dan menjadi sebab mundurnya (dekadensi) pada setiap kejatuhan sebuah kerajaan. Sehingga orang orang Bali merasa berterima kasih kepada kaum muslim yang dengan tegas menolak tradisi menyimpang tersebut.

Cara Mudah Mengingat

Memang, Walisongo akhirnya tidak pernah menjadi sembilan sampai penulis penulis belakangan menyebutnya berjumlah sembilan untuk memudahkan ingatan.

Walisongo yang tak pernah sembilan tersebut sebenarnya telah membentuk gaya dan arsitektur metropolis tersendiri bagi kebudayaan di Jawa secara khusus. Gaya dan arsitektur metropolis tersebut sudah terbentuk jauh sebelumnya sebagaimana berdirinya candi Borobudur dan candi Prambanan (Siwagraha) yang melambangkan keragaman (diversity) aliran aliran agama dan kepercayaan, suku, bangsa, etnis, dan ras. Hanya saja perdefinitif sering diseragamkan: candi Borobudur adalah candi milik umat Buddha, sementara candi Prambanan milik umat Hindu.

Padahal, baik Syiwa, Wisnu, Brahma, Krisna, maupun Buddha adalah aliran aliran kepercayaan yang belakangan dikenal dengan sebutan agama, berasal dari tanah (H)indus atau Hindustan. Perkembangan model metropolitan tersebut kemudian berkembang di Jombang, Kediri, maupun Trowulan. Secara jelas, gambaran metropolitan tersebut tergambar dari susunan rumah/istana dan struktur organisasi kerajaan. Setiap raja yang tergabung di dalam tradisi Mitra Satata diberi kesempatan mendirikan istana sendiri di Trowulan.

Walisongo yang tak pernah sembilan membangun secara konsep tidak jauh dari kultur yang sudah ada sebelumnya. Kota Tuban dan Kota Cirebon menjadi tumpuan budaya prototipe metropolitan dari Trowulan misalnya. Hal ini dapat dilihat kelengkapan kelengkapan nama dan petilsan dengan sebutan sama. Maka, tidak heran, jika kemudian, baik di Tuban maupun Cirebon, terdapat tempat dengan sebutan sama seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Bejagung, dan lain lain.

Tags: Walisongo yang tak pernah sembilan
Previous Post

Kanjuruhan dan Raja Raja Jawa (I)

SELANJUTNYA

KADIN, APINDO, HIPMI Kabupaten Jombang Gelar Pelatihan Vokasi

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

SELANJUTNYA
NET26.id - Pelatihan Pelatih Tempat Kerja (AbA-IB) KADIN Jombang

KADIN, APINDO, HIPMI Kabupaten Jombang Gelar Pelatihan Vokasi

MTs Madrasatul Quran Tebuireng Fasilitasi FASTA Gratis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In