• Latest
  • Trending

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (II)

24 September 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (II)

Jatim Net26 Jurnalis Jatim Net26
24 September 2022
in Berita Khusus
Reading Time: 2 mins read
A A

Kitab Al Durrunnafis memang banyak dikaji oleh paraulama dan kaum cendekiawan muslim, baik penelitian ilmiah maupun pengajaran. Secara ringkas tanpa maksud mereduksi isi kitab tersebut, bisa kami sampaikan berikut. Pada bab “Muqadimah”, beliau menyarankan kepada para salik (orang yang sedang menuju jalan Allah) agar hendaknya menjaga diri dari segala bentuk maksiat, baik maksiat lahir maupun batin. Hal ini dilakukan agar seorang salik terhindar dari hal hal yang bisa membatalkan laku suluk itu sendiri.

Ada pun di antara perkara yang dapat membatalkan suluk menurut Syekh Muhammad Nafis rahimahullah adalah: pertama, malas (kasl) di dalam beribadah kepada Allah; kedua, lemah semangat (futuur) akibat terlalu banyak aktivitas duniawi; ketiga, jemu atau bosan (malal) beribadah lantaran berulang ulang. Semua ini dapat membatalkan laku suluk yang sedang ditempuh oleh seorang salik.

ArtikelLainnya

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023
0

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023
0

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023
0

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023
0
Load More

Dalam “Muqadimah” ini, Syekh Muhammad Nafis juga menjelaskan perkara perkara yang dapat mencegah seorang salik untuk bisa sampai (wushul) ke hadirat Allah, diantaranya adalah syirik khafi (samar samar) yang masih ada bersarang di hati seorang salik. Syirik khafi ini muncul manakala seorang hamba meyakini bahwa setiap perbuatan itu datangnya dari hamba juga, bukan dari Allah swt semata.

Selain syirik khafi, sikap riya’ di dalam beribadah juga dapat menghalangi seseorang untuk bisa sampai ke hadirat Allah. Riya’ adalah beribadah tidak murni karena Allah, tapi ada tujuan lain, bahkan keinginan untuk masuk surga sekalipun. Selain itu, sum’ah dan ujub pun bisa juga menghalangi seorang salik menuju Allah. Sum’ah itu memublikasikan ibadah yang telah kita kerjakan dengan tujuan dapat apresiasi atau pujian. Sedangkan, ujub itu merasa senang dan bangga karena suatu ibadah yang telan sukses dikerjakan.

Ada lagi yang bisa menghalangi seorang salik untuk bisa sampai kepada Allah, yakni berhenti beribadah (wuquf ma’al ‘ibadah) lantaran sudah merasa sampai ke hadirat Allah. Ia merasa sudah sampai, padahal masih belum sampai ke hadirat Allah swt. Dan, yang tidak kalah pentingnya untuk diwaspadai oleh seorang salik ialah hijab atau tabir yang menabiri atau menghalangi untuk sampai ke Zat Allah (haqiqatul haqiqah) berupa cahaya terang di dalam setiap ibadah yang ia kerjakan. Ia tidak lagi fokus kepada Allah, melainkan silau hati dan pikirannya dengan cahaya yang diberikan Allah. Semua ini hanya bisa dihilangkan dengan memahami konsep tauhid yang insya Allah kami sampaikan di bagian selanjutnya. Wallahu A’ lamu Bishawab.

Tabalong, 21 September 2022.

Tags: Syekh Muhammad Nafis Al BanjariTauhid
Previous Post

Tradisi Rebo Wekasan di Galesong, Takalar

SELANJUTNYA

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (III)

Jatim Net26

Jatim Net26

SELANJUTNYA

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (III)

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (IV)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In