• Latest
  • Trending

Hidup Asep yang Ngairil

28 Agustus 2022

Shiddiqiyyah Dhibra Gelar Buka Puasa Dan Santunan Anak Yatim Di Bulan Ramadan

21 Maret 2024

Tabir Misteri Peringatan Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 2023

Puisi Puisi Hasyim Wahid

22 Maret 2023

100 Hari Wafat Remy Sylado

19 Maret 2023

Memanusiakan Teks Al Quran ke dalam Tafsir Aktual

10 Maret 2023

Belajar Tauhid kepada Syekh Muhammad Nafis Al Banjari (V)

7 Maret 2023

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam “Ruang Renung Rara”

28 Februari 2023

Dari Kata untuk Manusia dalam Ruang Rindu Rara

28 Februari 2023

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023

Pedas! Anggota IKAPETE yang Tak Mau Berjuang di Masyarakat, Diminta Berhenti!

23 Januari 2023

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
JATIM - Net26.id

Hidup Asep yang Ngairil

Sebuah Cerita

Jatim Net26 Jurnalis Jatim Net26
28 Agustus 2022
in Sejarah dan Sastra
Reading Time: 3 mins read
A A

Setiap sore kecuali Kamis malam, gerobak hias itu selalu diterangi lampu. Libur. Setiap malam pengunjung selalu ramai apalagi malam Minggu.

Ada banyak nama Asep di tempatnya, tapi Asep yang satu itu memiliki tipikal yang susah ditebak. Terutama, oleh kerabat kerabat dekatnya. Asep dengan keanehan keanehannya.

ArtikelLainnya

Proyek Proyek Melatinkan Karya Karya Sastra di Indonesia

2 Maret 2023
0

Menerjemah Nilai Nilai Kemanusiaan August Strindberg di Indonesia

28 Januari 2023
0

Masa Kegelapan Datang Diganti dengan Perang

15 November 2022
0

Sastra dan Pusat Peradaban di Nusantara

5 November 2022
0
Load More

Asep yang satu itu tidak sama dengan Asep Asep yang lain. Asep yang satu itu tergolong rajin ibadah. Meskipun, urut urutan rukun dan syarat sering terlupakan. Keanehan itu seperti disengaja. Barangkali, ia masih terinspirasi Mang Uyan, wali jadzab yang meninggal dunia dua minggu berlalu.

Tak usah pula disebut nama lengkapnya, karena kerabatnya juga sering lupa. Tapi, sebut saja namanya Asep.

Pada suatu ketika, kerabat bahkan orang orang sekampungnya juga tidak lagi ingat. Tiba tiba, Asep muncul dari keremangan malam di pos ronda di ujung jalan pertigaan. Asep berkalung sarung, berjaket, dan bertopi pet. Tak biasa. Asep memakai celana panjang yang dipotong selutut.

Penjaga ronda malam itu ada lima orang yang sedang bermain gaple di bawah terawang lampu gantung. Melihat kedatangan Asep yang tiba tiba, kelimanya terkesiap.

Dari balik jaketnya, Asep mengeluarkan secarik kertas bertulis tangan. Lalu, membentang di bawah temaram. Asep membaca puisi puisinya dengan syahdu. Setelah memecah keheningan, tak menunggu waktu lama, Asep berlalu sebelum kelima penjaga ronda sempat bertanya tanya padanya. Hanya satu kata yang terucap, “Sep!”

Asep menghilang di kegelapan di balik pohon pisang.

Lain waktu, Asep di siang, sekira jam duaan. Tepat pada detik nol nol. Dia telah berdiri di mushalla yang didirikannya di dekat rumahnya. Tak ada seorang pun, kecuali dirinya. Asep azan sendiri, kemudian iqamat dan sholat sendiri. Hingga, pada duduk terakhir, mewiridkan amalan yang sangat panjang.

Semula tidak ada keanehan. Satu dua orang yang berlalu lalang di depan mushalla hanya melirik sebentar, melihat Asep sholat sendirian. Tapi, beberapa hari kemudian mulai terdengar suara sesenggukan tiada henti. Orang mengira Asep sedang tobat. Dia sudah terlalu dekat kepada Tuhannya. Semua penyesalan sedang ditumpahkan. Orang orang berlalu lalang membiarkan.

Namun, tidak berjalan lama. Suara suara sumbang mulai terdengar. Ada yang bilang kalau Asep sudah kelewatan. Beribadah keterlaluan. Bertobat tidak sudah sudah. Kerabatnya mulai khawatir dengan kecamuk pikiran masing masing. Ada yang coba menegahnya, tapi Asep bergeming.

Kampung mulai ramai. Hari itu, penduduk desa berkumpul di depan mushalla. Tak ketinggalan Pak Lurah dan Pak RT juga tampak. Mereka coba menegah Asep lagi agar tak tersedu sedu. “Kasihan kerabat!” teriak salah seorang wanita setengah baya yang menggendong anaknya.

Asep masih bergeming.

Pak Lurah dan Pak RT melerai. Tak ada insiden. Mereka hanya merasa terusik dengan ulah Asep. Beberapa hari kemudian, atas musyawarah desa, Asep mulai ditangkap dengan tuduhan telah bikin keributan dan tindak menyenangkan. Asep digiring ke rumah sakit. Atas rekomendasi Pak Lurah, Asep mendapat fasilitas kamar dan dua orang penjaga dari kelurahan yang bertugas. Setiap hari dua orang penjaga secara bergantian.

Asep masih seperti semula. Tak henti henti sesenggukan, bahkan kian parah dan membuat penduduk desa kian khawatir.

Syahdan, tampak Asep sedang dikelilingi jawara dadu di pasar Ngairil. Dengan berkalung sarung, Asep beberapa kali memenangkan permainan. Tampak wajah kesal lawan lawannya. Berlembar lembar uang sudah dikumpulkannya ke dalam sebuah umplung. Ada ketidakpuasan dari jawara jawara dadu yang biasa mangkal di pasar itu. “Curang! Curang!” teriak mereka, bersamaan. Sembari mengucapkan sumpah serapah. “Main sulap! Main sulap!” teriak mereka lagi sambal menuding nuding Asep. Lalu, Asep dikeroyok. Digebuk ramai ramai hingga babak belur.

Sementara dua penjaga kamar di rumah sakit yang bertugas hari itu terkejut. Karena, tiba tiba serombongan penduduk desa berdatangan seraya memastikan Asep masih di kamarnya.

Dua penjaga itu tampak bingung. “Apa yang terjadi?” tanya keduanya, berbarengan.

Penduduk desa berteriak teriak, “Asep! Asep!”

Kedua penjaga bersitatap, bingung.

“Kalian menjaga Asep tidak becus! Kenapa Asep ada di pasar?” tanya Pak Lurah.

Kedua penjaga tambah bingung. “Kami seharian di sini jagain Asep, tidak ke mana mana. Asep ada di dalam kamar,” sahut penjaga.

“Kalian bohong! Asep ada di pasar Ngairil tadi. Dia dikeroyok preman preman pasar!” tambah Pak Lurah.

“Tidak! Sungguh! Sungguh Asep di kamar bersama kami!” jawab penjaga sembari menjura jura.

Tags: Asep
Previous Post

Menjemput Berkah Wali Tanah Jawa

SELANJUTNYA

Yang Dibutuhkan adalah Konsistensi

Jatim Net26

Jatim Net26

SELANJUTNYA

Yang Dibutuhkan adalah Konsistensi

Hidup Asep yang Ngairil (Bagian Dua)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In